Purana dan Vicenza Kolaborasi Lewat Workshop Hampers, Ubah Kain Perca Jadi Karya Bernilai
Menurut Nonita, nilai sebuah material tidak semata-mata ditentukan oleh harga bahan bakunya, tetapi juga oleh kreativitas dan konsep yang melekat pada hasil akhirnya.
“Kalau kita tahu bagaimana cara menaikkan levelnya dengan estetika, desain dan visi kita, harganya bisa jauh lebih tinggi daripada percanya,” tuturnya.
Ia mencontohkan karya seniman Hana Wijaya melalui brand Threadnetic yang menggunakan 100 persen kain perca Purana.
Karya tersebut disebut telah dipesan sejumlah perusahaan besar dan dapat memiliki nilai hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Dalam pameran yang sama, karya dari material perca bahkan disebut memiliki nilai hingga Rp4 miliar, sementara karya bunga dari Suanjaya Kencut dijual sekitar Rp6 juta per 10 bunga.
Hal tersebut menjadi gambaran bahwa material yang dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi produk bernilai tinggi ketika berada di tangan kreator yang tepat.
Semangat keberlanjutan juga menjadi bagian penting dari kolaborasi Purana dan Vicenza. Keduanya memiliki perhatian terhadap bagaimana produk dan material yang sudah tidak terpakai dapat diberi kehidupan baru.
Vicenza, misalnya, memanfaatkan pecahan keramik sebagai bagian dari dekorasi di showroom.

Hanny menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan kampanye “Dibuang Sayang”, yakni mengajak masyarakat untuk tidak buru-buru membuang barang yang sudah rusak atau tidak terpakai.
Ia mencontohkan piring pecah yang masih dapat dimanfaatkan menjadi elemen dekorasi atau pot dengan kreativitas tertentu.
Konsep serupa diterapkan dalam workshop. Alih-alih menggunakan plastik, kertas, atau material sekali pakai sebagai filler hampers, peserta diajak menggunakan kain perca Purana untuk mengisi sekaligus mempercantik paket. (*)





