Purana dan Vicenza Kolaborasi Lewat Workshop Hampers, Ubah Kain Perca Jadi Karya Bernilai
VIVIA MEDIA — Kolaborasi Purana Home dan Vicenza tidak sekadar menghadirkan produk baru, tetapi juga membawa pesan tentang kreativitas, budaya lokal, dan keberlanjutan. Semangat tersebut diwujudkan melalui Workshop Kesenian Purana bersama Vicenza yang digelar di Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian menuju peluncuran koleksi kolaborasi Purana dan Vicenza yang direncanakan hadir pada 2027.
Mengusung konsep membuat hampers dengan memanfaatkan kain perca Purana dan produk tableware Vicenza, kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan cara baru dalam memandang material sisa.
Sekitar 30 orang dari berbagai latar belakang dan profesi mengikuti workshop tersebut. Awalnya, kegiatan dirancang hanya untuk sekitar 16 peserta.

Namun, tingginya antusiasme membuat penyelenggara membuka kesempatan lebih luas, termasuk bagi peserta yang mendaftar melalui media sosial Purana dan Vicenza.
Bukan Sekadar Workshop Membuat Hampers
Hampers menjadi pilihan utama dalam workshop karena memiliki peluang penggunaan yang luas, mulai dari Idul Fitri, Natal, Tahun Baru, Chinese New Year, hingga acara pernikahan.
| Baca Juga: Gemar Main Golf, Samuel Zylgwyn Mengaku Tak Mau Sembarangan Membeli Peralatan
Founder Purana, Nonita Respati, mengatakan workshop tersebut dirancang untuk memberikan keterampilan yang dapat dimanfaatkan peserta secara mandiri.
“Biasanya kalau kita beli parsel yang sudah di-set, harganya jauh lebih mahal. Jadi, kenapa tidak kita kasih skill kepada Bapak-Ibu untuk bisa mengerjakan parselnya sendiri dengan produk-produk Vicenza,” ujar Nonita.

Menariknya, para peserta yang hadir tidak berasal dari satu komunitas yang sama. Sebagian baru bertemu dan berkenalan saat workshop berlangsung. Pemilik Vicenza, Hanny, menilai kondisi tersebut justru memperlihatkan karakter perempuan Indonesia yang kreatif dan mampu bekerja sama.
“Budayanya Ibu Indonesia itu semuanya harus serba bisa. Apa pun bisa dimanfaatkan,” kata Hanny.
Workshop tersebut menjadi perkenalan awal sebelum koleksi kolaborasi Purana dan Vicenza diluncurkan pada tahun depan.
Belinda Rosalina selaku speaker menjelaskan, produk kolaborasi nantinya lebih berfokus pada tableware, seperti serving plate dan berbagai perlengkapan untuk kebutuhan home living. Sementara konsep hampers dalam workshop kali ini merupakan salah satu contoh pemanfaatan produk tersebut.

Kolaborasi ini bermula dari hubungan personal Hanny dan Belinda yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Keduanya bahkan pertama kali bertemu di salon dan kembali terhubung setelah mengetahui aktivitas bisnis masing-masing.
Ketika Vicenza sedang mencari brand untuk diajak berkolaborasi, ide tersebut akhirnya mempertemukan Purana dan Vicenza dalam satu proyek kreatif.
“Energi menyatukan. Sebenarnya kalau tidak sefrekuensi itu agak sulit menyambungkan ide, karena ini kan ide kreatif,” ujar Hanny.
| Baca Juga: Kenalkan Seni Kepada Anak Sebagai Passion, Bukan Paksaan
Konsep visual koleksi kolaborasi juga mengambil inspirasi dari karya Purana bertema Merpati Pelangi, burung endemik di Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke dalam desain fashion dan akan dipindahkan ke media berbeda berupa tableware.
Menurut Hanny, tantangan utama kolaborasi tersebut adalah mempertahankan karakter visual Purana ketika diterapkan pada media seperti piring dan perlengkapan saji.
Salah satu pesan kuat dalam kegiatan tersebut adalah bagaimana kain perca tidak dipandang sebagai limbah yang harus dibuang. Purana selama ini berupaya memanfaatkan kembali material sisa dari proses produksinya. Dalam rangkaian eksibisinya, Purana juga menggunakan material daur ulang untuk berbagai instalasi.

Nonita menyebut lebih dari 50 persen material kardus yang digunakan dalam sejumlah instalasi pameran berasal dari material yang didaur ulang. Beberapa instalasi bahkan dibuat kembali dari material pameran sebelumnya.
Kain perca Purana juga diberikan kepada sejumlah seniman untuk diolah menjadi karya baru. Salah satunya adalah seniman Suanjaya Kencut yang memanfaatkan perca Purana untuk membuat karya flower doll.
| Baca Juga: Ini 7 Cara Kreator Mengubah Kreativitas Menjadi Penghasilan dengan Bantuan AI
Menurut Nonita, nilai sebuah material tidak semata-mata ditentukan oleh harga bahan bakunya, tetapi juga oleh kreativitas dan konsep yang melekat pada hasil akhirnya.
“Kalau kita tahu bagaimana cara menaikkan levelnya dengan estetika, desain dan visi kita, harganya bisa jauh lebih tinggi daripada percanya,” tuturnya.
Ia mencontohkan karya seniman Hana Wijaya melalui brand Threadnetic yang menggunakan 100 persen kain perca Purana.
Karya tersebut disebut telah dipesan sejumlah perusahaan besar dan dapat memiliki nilai hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Dalam pameran yang sama, karya dari material perca bahkan disebut memiliki nilai hingga Rp4 miliar, sementara karya bunga dari Suanjaya Kencut dijual sekitar Rp6 juta per 10 bunga.
Hal tersebut menjadi gambaran bahwa material yang dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi produk bernilai tinggi ketika berada di tangan kreator yang tepat.
Semangat keberlanjutan juga menjadi bagian penting dari kolaborasi Purana dan Vicenza. Keduanya memiliki perhatian terhadap bagaimana produk dan material yang sudah tidak terpakai dapat diberi kehidupan baru.
Vicenza, misalnya, memanfaatkan pecahan keramik sebagai bagian dari dekorasi di showroom.

Hanny menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan kampanye “Dibuang Sayang”, yakni mengajak masyarakat untuk tidak buru-buru membuang barang yang sudah rusak atau tidak terpakai.
Ia mencontohkan piring pecah yang masih dapat dimanfaatkan menjadi elemen dekorasi atau pot dengan kreativitas tertentu.
Konsep serupa diterapkan dalam workshop. Alih-alih menggunakan plastik, kertas, atau material sekali pakai sebagai filler hampers, peserta diajak menggunakan kain perca Purana untuk mengisi sekaligus mempercantik paket. (*)





