Anak Ikut Lari? Jangan Langsung Duduk Setelah Finis, Ini yang Wajib Dilakukan
VIVIA MEDIA — Olahraga lari kini tak lagi identik dengan orang dewasa. Semakin banyak kegiatan lari yang turut melibatkan anak-anak, baik melalui kategori khusus maupun jarak yang disesuaikan dengan usia mereka.
Lari pun kini menjadi aktivitas yang semakin dekat dengan keluarga. Anak-anak mendapat kesempatan untuk merasakan pengalaman berlari dalam suasana yang menyenangkan, bersama teman maupun orang tua.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh luput ketika anak mulai aktif mengikuti kegiatan lari: olahraga tidak serta-merta selesai ketika mereka mencapai garis finis.
Setelah berlari, tubuh membutuhkan waktu untuk beralih dari kondisi aktif menuju keadaan yang lebih rileks. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui cooling down atau pendinginan.
| Baca Juga: Marcell Darwin Tanamkan Gaya Hidup Sehat Sejak Dini pada Anak Lewat Olahraga
Cooling down menjadi bagian penting untuk menutup rangkaian aktivitas olahraga. Jika pemanasan dilakukan untuk mempersiapkan tubuh sebelum berlari, pendinginan dilakukan setelahnya untuk membantu menurunkan intensitas aktivitas secara bertahap sekaligus melemaskan otot.
“Waktu cooling down itu sangat penting. Sebelum lari, kita sudah mengaktivasi tubuh untuk aktivitas yang akan digunakan untuk berlari. Lalu kita lanjut ke lari. Setelah itu kita tutup dengan cooling down untuk mengurangi fatigue atau risiko cedera setelah beraktivitas olahraga,” ujar Yudhis, professional coach dari On di Wilio - Running Coaching Clinic di Taman One Satrio, Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (23/8).
Menurutnya, prinsip tersebut tidak hanya berlaku dalam olahraga lari. Berbagai aktivitas fisik lainnya, seperti bermain sepak bola dan berenang, juga sebaiknya diakhiri dengan cooling down.
| Baca Juga: Gemar Main Golf, Samuel Zylgwyn Mengaku Tak Mau Sembarangan Membeli Peralatan
Boleh Minum Sebelum Cooling Down
Setelah menyelesaikan lari, orang tua mungkin bertanya-tanya apakah anak harus langsung melakukan stretching atau boleh minum terlebih dahulu.
Yudhis menjelaskan bahwa anak tetap diperbolehkan minum sebelum melakukan pendinginan. Sambil beristirahat dan minum, tubuh dapat mulai menurunkan heart rate atau denyut jantung serta suhu tubuh sebelum anak melanjutkan ke sesi cooling down.
“Boleh minum dulu. Jadi sambil minum, nanti kita turunkan heart rate-nya atau suhu tubuhnya agar turun. Baru lanjut kita ke cooling down,” jelasnya.
Dengan demikian, anak tidak perlu langsung melakukan peregangan begitu berhenti berlari. Berikan waktu sejenak agar tubuh dapat bertransisi secara bertahap. Setelah itu, anak dapat diajak melakukan gerakan pendinginan dengan tenang dan sesuai kemampuannya.
| Baca Juga: Greg Nwokolo Tak Paksakan Anak Jadi Pemain Sepak Bola
Otot yang Bekerja Perlu Dilemaskan
Saat berlari, otot-otot tubuh bekerja aktif untuk menghasilkan sekaligus menopang setiap gerakan. Setelah aktivitas selesai, otot tersebut perlu diberi kesempatan untuk kembali rileks.
“Untuk cooling down ini, kita tutup dengan melemaskan otot-ototnya. Jadi, risiko cedera dan risiko fatigue atau down bisa kita minimalisir,” kata Yudhis.
Pendinginan juga menjadi bagian dari upaya menjaga tubuh agar tetap siap menjalani aktivitas pada hari berikutnya. Dengan membiasakan cooling down, anak belajar bahwa menjaga kondisi tubuh setelah berolahraga sama pentingnya dengan mempersiapkannya sebelum berolahraga.
“Untuk hari berikutnya, adik-adik ataupun orang lain masih bisa melanjutkan aktivitas tanpa adanya risiko cedera,” ujarnya.
| Baca Juga: Tak Masukkan ke Playgroup dan Tanpa Babysitter, Olivia Zalianty Pilih Rawat Anak Sendiri
Cooling down tidak harus berlangsung lama. Menurut coach, sekitar 7–10 menit sudah cukup untuk melakukan rangkaian pendinginan setelah berlari.
“Baiknya itu sekitar 7–10 menit, itu sudah aman,” katanya.
Gerakan Sederhana dari Kepala hingga Kaki
Dalam praktiknya, cooling down dapat dilakukan melalui gerakan sederhana yang melibatkan berbagai bagian tubuh. Anak-anak dapat diarahkan untuk menggerakkan tubuh ke kiri dan kanan, menarik tangan ke belakang, kemudian melakukan peregangan pada bagian kepala dan leher.
Gerakan dapat dilanjutkan dengan mengangkat dan menundukkan dagu, lalu mengarahkannya secara perlahan ke sisi kanan dan kiri. Setelah bagian atas tubuh, peregangan kemudian beralih ke kaki.

Anak dapat diarahkan untuk menarik salah satu kaki ke atas dan menahannya selama beberapa saat, kemudian membuka kaki dan berganti ke sisi lainnya. Tubuh juga dapat diputar perlahan ke kiri dan kanan sebelum kedua kaki kembali dirapatkan.
Selanjutnya, tangan diluruskan ke arah ujung kaki. Gerakan dapat diteruskan dengan menyilangkan kaki kanan ke kaki kiri, kemudian berganti sisi. Peregangan pada bagian kaki dilakukan secara perlahan dan tetap dalam posisi yang terkontrol.
Pada bagian akhir, tangan diarahkan menyilang ke sisi tubuh secara bergantian. Seluruh gerakan dilakukan dengan tenang, tanpa memaksakan jangkauan gerak, dan disesuaikan dengan kemampuan anak. (*)






