Baskara Mahendra Ubah Cara Jalan dan Hitamkan Kulit Demi Peran Film Lobang Buaya
VIVIA MEDIA — Baskara Mahendra kembali ke layar lebar melalui proyek film terbaru garapan sutradara Hanung Bramantyo berjudul Lobang Buaya. Dalam film yang diproduksi oleh Adhya Pictures dan Dapur Film ini, Baskara didapuk memerankan karakter sentral bernama Letnan Soegeng.
Berbeda dengan peran-peran yang pernah ia mainkan sebelumnya, aktor berusia 33 tahun ini harus bertransformasi menjadi sosok aparat. Letnan Soegeng bertugas membongkar motif di balik pembunuhan berantai yang terjadi setiap tanggal 30 September di Desa Lobang Buaya.
Film ini menjanjikan alur cerita yang membawa penonton mengikuti setiap langkah Soegeng dalam mencari dalang di balik teror tersebut.
"Saya yakin dari setiap petunjuk yang ditemukan, setiap korban yang berjatuhan, penonton akan dibawa melalui perjalanan yang engga cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya, siapa yang berdosa dalam kisah ini?” jelas Baskara Mahendra saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).
| Baca Juga: Rein, Penyandang Disabilitas Yang Menemukan Jalan Dari Musik ke Akting Lewat Film Istimewa
Transformasi Fisik Demi Karakter
Untuk menghidupkan karakter Letnan Soegeng, Baskara menjalani serangkaian persiapan fisik yang cukup intensif. Sebagai seorang aparat, ia dituntut untuk memiliki gestur yang jauh berbeda dari kesehariannya agar terlihat meyakinkan di depan kamera.
"Perubahan yang paling terlihat tentu dari potongan rambut dan postur tubuh. Saya harus menyesuaikan cara berdiri dan gerak-gerik agar tidak terlihat lunglai, harus lebih tegap dan tegas," jelas Baskara.
Tidak hanya soal gestur, aspek visual kulit pun menjadi perhatian serius tim produksi. Baskara harus menggunakan riasan khusus untuk mendapatkan warna kulit yang lebih gelap agar merepresentasikan seorang prajurit lapangan.
"Warna kulit saya juga disesuaikan dengan keinginan Mas Hanung. Saya menggunakan makeup agar terlihat lebih gelap, seolah sering berada di lapangan," tambah mantan suami Sherina Munaf ini.
| Baca Juga: Totalitas Pemeran Film ‘Operasi Pesta Copet’: Belajar Mencuri hingga Tanning
Penyelidikan Bergaya Detektif
Baskara menjelaskan bahwa karakter Soegeng dalam film ini berfungsi sebagai penyidik. Alur ceritanya sendiri akan menggunakan pendekatan whodunnit, di mana penonton akan diajak menebak siapa pelaku sebenarnya seiring dengan terbukanya tabir misteri satu per satu.
"Karakter Sugeng ini melakukan investigasi. Perannya di sini bisa dibilang mirip seperti detektif dalam film whodunnit. Perlahan-lahan kita akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang melakukannya, dan bagaimana hubungannya dengan kehidupan pribadi Sugeng. Ceritanya akan terkuak satu per satu seiring berjalannya film," ungkap Baskara.
Mengenai latar belakang militernya, Baskara menyebutkan bahwa ia juga mendalami bagaimana kondisi Angkatan Darat pada tahun 1964, yang secara struktural belum seperti militer modern saat ini.
Bintang serial Jakarta Undercover ini pun membocorkan adanya latihan khusus yang bersifat rahasia untuk menunjang perannya.
| Baca Juga: Reuni dengan Sutradara Squid Game, Lee Byung-hun Bintangi Film Layar Lebar 'K.O. Club'
"Kalau untuk tentaranya sih bagaimanapun sebenarnya di tahun itu belum segitu kayak kaum sekarang ya, Angkatan Darat enggak ada sapta marga atau seperti apa gitu. Tapi kalau yang ada atau enggak latihan, ada sih, ada tapi rahasia," tuturnya.
Kedekatan Personal dengan Sejarah Indonesia
Keterlibatan Baskara dalam film Lobang Buaya bukan tanpa alasan. Ia mengaku memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap sejarah Indonesia sejak masa sekolah. Baginya, membaca sejarah seperti membaca sebuah narasi fiksi yang penuh dengan intrik.
"Sebenarnya saya memang senang sejarah. Dulu pelajaran yang kalau buku paketnya datang langsung di baca adalah sejarah. Satu atau dua hari pasti selesai. Karena seperti baca buku cerita, kayak baca buku fiksi gitu," ungkap Baskara.
Film ini mengambil latar tahun 1964, sebuah periode sensitif dalam sejarah Indonesia yang seringkali tidak terjelaskan secara gamblang dalam buku pelajaran sekolah.
| Baca Juga: Ini Akun Media Sosial yang Disomasi Reza Arap Terkait Film 'Harusnya Horror'
Baskara melihat proyek ini sebagai ruang diskusi yang menarik, terutama mengenai peristiwa pasca-1965 yang selama ini terkesan ditutup-tutupi.
"Tahun '65 kan memang kita tidak mendapatkan itu di buku paket ya. Jadi cerita di film ini seperti obrolan di tongkrongan. Kayak siapa sih sebenarnya dalangnya, ini tuh apa sih sebenarnya yang terjadi, kenapa banyak banget ditutup-tutupin, kenapa dulu pas zaman kita sekolah setiap tanggal 30 harus nonton filmnya, "beber Baskara.
Ia juga menyoroti cara unik Hanung Bramantyo dalam menyampaikan kritik dan teorinya mengenai sejarah melalui elemen horor. Alih-alih menunjuk langsung pada figur politik tertentu, Hanung menggunakan personifikasi "setan" sebagai simbol penggerak kejahatan.
"Mas Hanung mungkin juga sadar betul enggak bisa membuat teorinya soal apa yang terjadi, jadi menggunakan setan untuk menjadi dalangnya. Makanya waktu pertama baca sinopsisnya, saya penasaran Mas Hanung mau nyalahin siapa nih di sini?," pungkasnya. (*)







