Cerita Allyssa Hawadi, Sembilan Tahun Menunggu Menjadi Ibu Lewat Bayi Tabung
VIVIA MEDIA — Ada pertanyaan sederhana yang bertahun-tahun terasa menyakitkan bagi Allyssa Hawadi dan suaminya, Candi Soeleman: sudah punya anak? Selama hampir sembilan tahun, keduanya menjalani penantian panjang untuk memiliki momongan, mulai dari konsumsi vitamin, inseminasi, hingga program bayi tabung yang dijalani berkali-kali di dalam dan luar negeri.
Allyssa dikenal publik sebagai makeup artist lulusan The Make-up Designory, New York dan London, yang kemudian merambah bisnis fashion sebagai salah satu pendiri lini Benang Jarum.
Di balik kesibukannya sebagai figur publik, ia menyimpan perjuangan panjang menjadi seorang ibu.
Delapan tahun pertama pernikahan, Allyssa dan Candi berpindah dari satu dokter ke dokter lain, namun hasil pemeriksaan selalu menyatakan kondisi keduanya baik-baik saja tanpa diagnosis yang jelas.
| Baca Juga: Teknologi Bayi Tabung Makin Canggih, tetapi Usia Tetap Jadi Penentu Utama
Pada 2020, saat pandemi membuat mereka lebih banyak di rumah, keduanya memutuskan menempuh program yang lebih serius, dimulai dari inseminasi yang belum membuahkan hasil.
“Saya tidak pernah bilang gagal. Saya selalu bilang, itu belum berhasil saja,” kata Allyssa, saat bincang-bincang bersama RS Pondok Indah IVF Centre di Menteng, Jakarta, Kamis (27/8).
Program berlanjut ke bayi tabung. Salah satu embrio sempat ditransfer pada 2 April, namun kembali belum berhasil.
Mereka pun mencoba peruntungan di Malaysia dengan membawa seluruh rekam medis dan pengalaman program sebelumnya. Hasilnya tetap sama, kehamilan tak kunjung terjadi, dan keduanya merasa tidak mendapat penjelasan memadai atas kegagalan tersebut.
| Baca Juga: Perjuangan Irish Bella Hamil Anak Haldy Sabri lewat Program Bayi Tabung di Malaysia
Candi memilih memaknai setiap pengalaman itu sebagai proses pengumpulan data dari berbagai rumah sakit dan negara.
Titik balik datang ketika Allyssa mendapat jadwal konsultasi dengan Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.O.G, dokter spesialis fertilitas di RS Pondok Indah IVF Centre. Nama tersebut sudah lama mereka dengar namun belum pernah didatangi.
Dari tumpukan rekam medis yang dibawa Allyssa, sang profesor menemukan petunjuk soal kualitas sel telurnya, bahkan sebelum pemeriksaan USG maupun pemeriksaan dalam dilakukan.
Kondisi Allyssa selama ini dikenal sebagai unexplained infertility, ketika penyebab sulit hamil tidak dapat dijelaskan meski hasil pemeriksaan tampak normal. Berdasarkan diagnosis itu, siklus menstruasi Allyssa ditunda hampir satu tahun untuk memperbaiki kualitas sel telur sebelum kembali menjalani program.

Dari proses tersebut, Allyssa mendapatkan lima sel telur yang setelah dipertemukan dengan sperma Candi menghasilkan tiga embrio baik, namun hanya satu yang bertahan.
Embrio terakhir itu bahkan sempat diperkirakan tidak akan hidup sampai hari kelima karena pembelahannya tidak sesuai. Namun di luar dugaan, embrio tersebut berkembang menjadi blastokista dan berhasil ditransfer ke rahim Allyssa.
“Embriolognya bilang, ada keajaiban,” ujar Allyssa mengenang momen ia menangis mendengar kabar tersebut melalui telepon di dalam mobil.
Program tersebut dijalani Allyssa pada 2024 di usia 33 tahun. Kehamilannya berjalan lancar hingga ia melahirkan normal pada usia kandungan hampir 40 minggu, dengan bayi perempuan seberat 3,3 kilogram.
| Baca Juga: Kisah ‘Moonshot’ dr Aucky Hinting yang Sukses Dampingi Lebih dari 22 Ribu Program Bayi Tabung
Kini putrinya sudah berusia 14 bulan. Ia sudah mulai berlari, bersekolah preschool, dan aktif berceloteh.
Sembilan tahun penantian membuat Allyssa sempat berpikir akan menjadi ibu yang sangat protektif terhadap anak yang ia sebut “bayi mahal” itu.
Namun, ia justru belajar melepaskan rasa takut berlebihan, sebuah pelajaran yang menurutnya turut dibentuk oleh terapi dan proses inner child work yang ia jalani selama masa penantian untuk menyembuhkan pola pengasuhan keras dari masa kecilnya.
Perjalanan Allyssa dan Candi juga menyoroti pentingnya keterlibatan laki-laki dalam proses kesuburan, yang menurut Candi masih sering dianggap semata persoalan perempuan.
| Baca Juga: Bintangi Film 'Baby Udon', Denny Sumargo Teringat Perjuangan Miliki Buah Hati
Ia menekankan pentingnya pasangan menjalani pemeriksaan bersama serta menghadapi proses tersebut sebagai satu tim, ditambah dukungan keluarga dan lingkungan terdekat yang menurut Allyssa sangat terasa berbeda dibandingkan saat menjalani program di luar negeri.
Bagi Candi, yang beragama Islam, ikhtiar adalah kewajiban manusia sementara hasil akhir tetap berada di tangan Tuhan. Pandangan itu membuat keduanya tidak pernah benar-benar menutup harapan meski berkali-kali menemui kegagalan.
“Manusia itu berusaha. Kewajiban kita sebagai manusia adalah ikhtiar. Tetapi hasilnya di tangan Allah,” tegas Candi.
Kini, penantian sembilan tahun itu telah memiliki wajah dan nama. Bagi Allyssa, perjalanan panjangnya bukan sekadar kisah tentang bayi tabung, melainkan proses menemukan dirinya sendiri sekaligus belajar menjadi ibu jauh sebelum anaknya lahir ke dunia. (*)







