Kini, sekitar 30 orang tergabung dalam komunitas pengajar Gema Ilmu. Mereka mengajar secara bergantian berdasarkan waktu dan kesediaan masing-masing.

Bagi para relawan, kegiatan tersebut bukan hanya soal mengajarkan kosakata, tata bahasa, atau percakapan bahasa Inggris. Ada pengalaman dan ikatan emosional yang ikut tumbuh selama proses belajar.

Naila dan relawan saat sesi kelas bahasa Inggris. Foto: Reza Wibisono

Akhdan mengaku sempat merasa gugup ketika pertama kali mengajar. Berhadapan dengan banyak anak membuatnya harus belajar mengatasi rasa canggung.

“Gugup pasti ada awal-awalnya. Tapi karena semakin lama semakin kenal sama murid-muridnya, ya kita mulai hilang rasa gugupnya,” tutur Akhdan.

Lambat laun, suasana belajar pun berubah semakin cair. Hubungan para relawan dengan anak-anak tidak lagi terasa kaku seperti guru dan murid.

Akhdan mengatakan, kedekatan tersebut justru membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan. Anak-anak mulai merasa nyaman dan menganggap para pengajar sebagai teman.

| Baca Juga: Perjuangan Esau Sidemo: 26 Hari Hanyut di Samudra Pasifik Hingga Dievakuasi Kapal Prancis

Bagi Naila, salah satu hal paling membahagiakan selama menjalankan Gema Ilmu adalah melihat antusiasme anak-anak ketika datang untuk belajar. Senyum dan semangat mereka menjadi semacam energi tambahan bagi para relawan untuk terus menjalankan kegiatan tersebut.

“Yang paling menyenangkan itu ketika melihat senyuman mereka dan antusiasme mereka untuk mau belajar bahasa Inggris,” ujar Naila.

Namun, mengajar anak-anak secara gratis juga bukan perkara mudah. Setiap anak memiliki karakter, tingkat pemahaman, dan gaya belajar yang berbeda. Karena itu, para pengajar harus terus beradaptasi agar materi yang diberikan bisa diterima dengan baik.

“Gimana caranya mereka tetap mau belajar tanpa merasa boring atau bosan,” kata Naila.

Naila dan Akhdan bersama Anak-anak yang tergabung dalam kelas bahasa Inggris gratis Gema Ilmu. Foto: Reza Wibisono

Akhdan menambahkan, tantangan lainnya adalah menghadapi anak-anak yang masih pemalu maupun mereka yang belum memiliki keinginan kuat untuk mengikuti pembelajaran.

1 2 3

Tags: