VIVIA MEDIA — Belanja barang premium secara daring kini menjadi kebiasaan yang mudah tergelincir menjadi keputusan terburu-buru. Foto produk yang menarik, ulasan yang meyakinkan, dan potongan harga yang menggiurkan sering kali membuat jari bergerak lebih cepat ke tombol checkout dibandingkan dengan akal sehat untuk menimbang kebutuhan sebenarnya.

Padahal, berbeda dengan belanja di toko fisik, konsumen di e-commerce tidak bisa menyentuh bahan, mencoba ukuran, mencium aroma, atau menguji fungsi produk secara langsung. Semua keputusan hanya bersandar pada informasi yang tersaji di layar, sehingga risiko kesalahan menjadi lebih besar, terutama untuk barang bernilai tinggi.

Saat ini ada pergeseran prioritas pada konsumen belakangan ini. Jika dahulu diskon dan promosi menjadi daya tarik utama, kini kualitas mulai menggeser posisi tersebut.

"Prioritasnya berubah, dari promosi menjadi kualitas," ujar Amelia Tediarjo, Head of Operations and Business Growth Lazada Indonesia, dalam sebuah perbincangan di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

| Baca Juga: Jangan Biarkan Inspirasi Berlalu! Begini Cara Mengubah Ide Menjadi Karya dengan AI

Pergeseran itu semestinya diikuti dengan kebiasaan baru dalam berbelanja. Alih-alih langsung membandingkan harga antarproduk, konsumen sebaiknya lebih dulu memeriksa apa yang sebenarnya ditawarkan, mulai dari material, kandungan, fitur, spesifikasi, hingga daya tahan barang.

Dengan begitu, harga yang lebih tinggi dapat dinilai secara objektif, apakah memang sepadan dengan keunggulan yang ditawarkan atau hanya bermodal citra merek.

Soal keaslian produk juga menjadi perhatian penting, khususnya untuk barang bernilai tinggi. Konsumen perlu memastikan rekam jejak penjual, asal barang, kelengkapan informasi produk, serta kebijakan pengembalian bila terjadi masalah.

Harga yang jauh di bawah pasaran semestinya menimbulkan kewaspadaan, bukan sekadar dianggap keberuntungan. Siska Mulysaputri, Country Online Manager Estée Lauder Companies Indonesia, mengamini kecenderungan ini.

| Baca Juga: Ternyata Ini yang Jadi Pertimbangan Syifa Hadju Saat Memilih Pembalut

"Konsumen sekarang makin memilih produk yang berkualitas tinggi. Mereka menginginkan produk yang definitely authentic, original," katanya.

Detail produk pun tidak boleh dilewatkan hanya karena tampilan foto sudah meyakinkan. Ukuran, material, kandungan, aroma, warna, hingga fungsi barang perlu dibaca satu per satu untuk memperkecil jarak antara ekspektasi dan kenyataan saat barang diterima.

Semakin mahal barang yang hendak dibeli, semakin penting pula ketelitian pada bagian deskripsi ini.

Selain soal detail produk, jeda waktu sebelum membeli juga menjadi kebiasaan yang perlu dibangun.

| Baca Juga: Tak Sekadar Murah, Ini Pertimbangan Tasya Kamila Saat Memilih Produk untuk Keluarga

Diskon, tren, kemasan menarik, hingga rasa takut kehabisan stok kerap mendorong konsumen mengambil keputusan lebih cepat daripada yang seharusnya.

Memberi jeda sejenak sebelum checkout, sembari bertanya pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sedang menarik perhatian, dapat mencegah penyesalan di kemudian hari.

Cara lain untuk menilai kelayakan sebuah pembelian adalah dengan memperhitungkan intensitas pemakaian.

Barang mahal yang hanya dipakai sekali dua kali bisa menjadi pembelian yang kurang efisien, sementara barang dengan harga lebih tinggi dapat terasa sepadan jika digunakan secara rutin dalam jangka panjang.

| Baca Juga: Ajari Pola Hidup Sederhana, Tya Ariestya dan Suami Dukung Anaknya Belajar Berdagang

Jadi, pertanyaannya bukan lagi sekadar mampu membeli atau tidak, melainkan seberapa sering barang itu akan benar-benar digunakan.

Popularitas nama besar sebuah merek juga sebaiknya tidak menjadi satu-satunya alasan membeli. Konsumen tetap perlu membandingkan material, fungsi, fitur, dan manfaat produk secara langsung, sehingga keputusan akhirnya didasarkan pada kebutuhan nyata, bukan sekadar citra.

Teknologi dan rekomendasi digital dapat membantu mempersempit pilihan, namun tetap perlu ditempatkan sebagai bahan pertimbangan, bukan penentu keputusan akhir.

Pada akhirnya, memilih barang premium secara cermat tidak membutuhkan keahlian khusus. Cukup dengan berhenti sejenak sebelum membeli dengan memeriksa keaslian, membaca detail produk, membandingkan kualitas dan fungsi, memastikan kebutuhan, serta menghitung intensitas pemakaian sebelum menilai apakah harganya masuk akal.

| Baca Juga: Ini Tips Belanja Cerdas agar Pengeluaran Lebih Efisien

Dengan begitu, konsumen dapat terhindar dari dua anggapan yang sama sama menyesatkan, bahwa barang murah selalu menguntungkan atau barang mahal selalu lebih baik.

Nilai sebuah pembelian sesungguhnya baru teruji setelah transaksi selesai, bukan dari seberapa mahal harganya, melainkan dari seberapa tepat barang itu menjawab kebutuhan penggunanya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: