Maudy menekankan bahwa hubungan mentor dan mentee dalam program ini berjalan dua arah, bukan sekadar mentor memberi jawaban. Karena itu pula, jumlah peserta tiap cohort sengaja dibatasi sekitar 30 orang.

"Sejujurnya, karena aku selalu mengalami trade-off antara scale dan juga quality. Karena memang programnya aku jalankan secara personally. Jadi kalau lebih dari 30, kayaknya takutnya fokus ataupun energi dan waktu aku kurang maksimal," jelasnya. Program berlangsung mayoritas secara daring mengingat peserta tersebar dari berbagai daerah hingga luar negeri, dengan satu sesi tatap muka sebagai penutup.

| Baca Juga: Maudy Ayunda: Masa Depan Bangsa Dimulai dari Suara Anak yang Didengar

Dua alumni Impact Leaders Cohort III turut membagikan pengalamannya.

Gaizzka Metsu Wilsensa menyebut dirinya belajar bahwa perubahan tidak harus dimulai dari skala besar, sementara Carys Mihardja menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup untuk menghasilkan solusi nyata, dan perlu diarahkan menjadi langkah pemberdayaan yang lebih konkret.

Memasuki cohort keempat, program ini kembali membuka pendaftaran untuk sekitar 30 anak muda berusia 18-22 tahun yang berstatus mahasiswa aktif dengan IPK minimal 3,0, disertai pengalaman organisasi dan komitmen menciptakan dampak positif. Pendaftaran dibuka hingga 11 September 2026.

Pada akhirnya, Maudy tidak menawarkan satu cetak biru tentang bagaimana anak muda seharusnya menjalani hidup.

Ia justru mendorong mereka untuk tetap terbuka terhadap kemungkinan, karena keberanian untuk terus bergerak ketika tujuan berubah bisa jadi lebih menentukan daripada seberapa cepat seseorang sampai pada tujuan itu sendiri. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: