Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Ikuti VIVIA Media di Google

Lokasi tersebut hanya sekitar 200 meter dari gedung kampus dan sebelumnya juga menjadi tempat mahasiswa serta dosen beraktivitas.

Menurut Sherina, medan kali ini jauh lebih menantang dibandingkan lokasi rewetting sebelumnya.

| Baca Juga: Sempat Diselamatkan dari Asap Karhutla, Orangutan 'Sampurna' Akhirnya Mati

Banyak batang kayu berada di atas gambut yang sangat panas sehingga tim harus mendinginkan area terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.

"Setiap kali kita melangkah ke depan, kita harus mendinginkan dulu karena masih sangat aktif baranya," ujar Sherina dalam unggahannya.

Yang membuatnya semakin memahami beratnya pekerjaan relawan adalah api yang terus muncul kembali. Setelah satu sisi dipadamkan, titik lain bisa kembali menyala.

Sherina bahkan mengaku staminanya mulai turun setelah beberapa hari berada di lapangan. "Beda sekali hari pertama dengan hari kedua gitu. Hari kedua staminaku turun," katanya.

| Baca Juga: Kian Memanas, Ruben Onsu Pertanyakan Urgensi Tes Kesehatan saat Bertemu Anak

Ia pun mengaku tidak bisa membayangkan para petugas yang harus berada berjam-jam di lokasi sambil melihat kawasan yang mereka cintai terbakar.

Hutan Kampus Ternyata Punya Biodiversitas Tinggi

Ada hal lain yang membuat Sherina merasa situasi tersebut tidak bisa dianggap sepele.

Kawasan hutan di belakang kampus UPR bukan sekadar lahan hijau, tetapi juga digunakan sebagai area praktikum dengan beragam tumbuhan dan satwa.

Sherina menyebut pada 2020 tercatat sekitar 63 spesies burung di kawasan tersebut. Setelah kebakaran, burung-burung itu tidak lagi terlihat di area yang sama.

1 2 3

Tags: