Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Dalam perjalanannya, Pita Kuning menemukan bahwa kanker tidak pernah hanya menjadi persoalan medis. Seluruh keluarga ikut terdampak, mulai dari ekonomi yang tertekan hingga saudara kandung anak yang sakit merasa kehilangan perhatian.

Pendampingan pun diperluas mencakup aspek psikososial, dukungan psikologis, nutrisi, hingga kegiatan edukatif dan rekreatif. Pandji mengingat satu keluarga yang rumahnya bahkan tidak memiliki pintu, sehingga Pita Kuning membantu menyediakan pintu bagi mereka.

Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono bersama keluarga dan anak yang tergabung dalam Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia. Foto: Naomi Nilawati.

Steny pun ikut bercerita. Menurut dia, pendampingan keluarga juga memperlihatkan sisi lain dari kanker anak. Seorang ibu yang bertahun-tahun merawat anaknya bisa begitu larut dalam rutinitas pengobatan hingga lupa memperhatikan dirinya sendiri, sementara saudara kandung yang sehat kerap merasa cemburu.

“Belum lagi ada kecemburuan antara kakaknya. Kakaknya merasa, bapak sama ibu merawat dia terus, aku tidak ada yang merawat,” ujar Steny.

Karena itu, Pita Kuning pernah mengajak para ibu makan siang dan berdandan sejenak, melepas rutinitas merawat anak. “Kadang membahagiakan anak kanker ini dimulai dari membahagiakan orang yang merawat dia,” katanya.

Salah satu kisah yang menggambarkan panjangnya pendampingan itu adalah Riany, yang didiagnosis leukemia sejak usia tiga tahun.

| Baca Juga: Syifaa, Bocah Cerebral Palsy asal Surabaya Terbitkan 3 Buku Anak

Delapan tahun kemudian, kondisinya membaik. Ia pun kembali bersekolah, meraih peringkat pertama, dan kini bercita-cita menjadi guru berkat para guru yang pernah mendukungnya selama pengobatan.

Di tingkat yang lebih luas, tantangan kanker anak di Indonesia masih besar. Terdapat sekitar 11 ribu kasus baru per tahun dengan angka kesembuhan hanya 20 sampai 30 persen, sementara jumlah dokter onkologi anak masih kurang dari 100 orang.

Steny mengenang Fadjri, anak dengan leukemia yang meninggal hanya beberapa hari setelah ia berjanji akan kembali bermain bersamanya.

“Saya datang waktu itu hari Senin, Kamis saya datang lagi, dia sudah nggak ada. Itu membuat kita sadar, ternyata di kanker ini kematian itu cepat banget,” kenangnya.

| Baca Juga: Kasus Tupac Shakur: 30 Tahun Menggantung, Juri Hanya Butuh 3 Jam Vonis Sang Pelaku

1 2 3

Tags: