Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Tidak ada yang direncanakan terlalu jauh ketika Pandji Pragiwaksono dan Steny Agustaf pertama kali tergerak membantu anak-anak penderita kanker. Namun, ruang itu muncul melalui sebuah ruangan siaran yang membuat hati mereka tergerak.

Pada 2006, keduanya masih bekerja sebagai penyiar radio. Momentum Ramadan membuat mereka ingin melakukan sesuatu yang berbeda melalui ruang siaran, bukan sekadar menghibur pendengar.

Sebuah cerita dari pendengar membawa mereka ke Rumah Sakit Kanker Dharmais, dan pertemuan itu menjadi titik awal perjalanan panjang yang tidak pernah mereka bayangkan.

Pandji bertemu seorang anak yang sedang menjalani perawatan paliatif, lalu berkenalan dengan dokter Edy Tehuteru. Dari percakapan itu terungkap kenyataan yang lebih besar, banyak anak penderita kanker datang dari keluarga kurang mampu, sementara BPJS belum tersedia.

| Baca Juga: Guruh Padukan Panggung Seni dan Aksi Kemanusiaan untuk Penyintas Kanker

Yang membuat Pandji tertegun, bantuan bagi anak-anak Indonesia justru banyak datang dari kelompok ibu-ibu ekspatriat. Kegelisahan itu dibawa ke ruang siaran, dan responsnya tidak disangka-sangka.

Dari sebuah siaran radio, kepedulian itu berkembang menjadi komunitas bernama Community for Children with Cancer, kemudian resmi menjadi yayasan pada 2007 dan dikenal sebagai Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia.

Hampir dua dekade berlalu, namun alasan yang membuat Pandji dan Steny tergerak tidak banyak berubah. Mereka melihat anak yang didiagnosis kanker seolah kehilangan identitasnya sebagai anak, namun lebih dulu dilihat sebagai pasien.

Padahal di balik diagnosis itu tetap ada anak yang ingin bersekolah, bermain, dan bermimpi.

| Baca Juga: Mendengarkan Sinyal Tubuh: Kunci Deteksi Dini Kanker dan TBC

“Anak-anak ini ketika dapat informasi bahwa mereka kanker, status mereka seakan berubah menjadi seorang pasien. Padahal tetap punya hak yang sama dalam hal menjadi anak-anak,” kata Pandji.

Menurutnya, mimpi anak-anak itu tetap valid meski jalurnya berubah. “Tadinya mereka punya jalur yang sudah mereka siapkan dan ingin mereka jalani. Ketika mereka punya kanker, jalurnya jadi baru. Tapi perjuangan kita bersama adalah membantu mereka mencapai cita-citanya dengan jalur yang baru,” ujarnya.

1 2 3

Tags: