Skor IQ Bukan Penentu, Ini Kunci Lain yang Menentukan Potensi Anak
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Banyak orang tua masih menilai kecerdasan anak dari angka rapor atau skor IQ. Padahal, kecerdasan anak jauh lebih kompleks daripada sekadar nilai akademik, dan salah satu faktor yang jarang disadari justru berasal dari sistem pencernaan.
“IQ itu cuma salah satu outcome. Yang namanya intelektual itu multiple intelligence,” Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Hal itu ia sampaikan dalam bincang-bincang bertema Growing Little Minds: The Science Behind Every Child's Potential yang diadakan Bebelac di Ideafest 2026, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, kemampuan berpikir, belajar, beradaptasi, memecahkan masalah, hingga berkonsentrasi merupakan bagian dari proses kognitif yang jauh lebih luas daripada nilai di kelas.
Anak yang tidak menonjol secara akademik bisa jadi memiliki kekuatan lain, misalnya dalam olahraga yang membutuhkan koordinasi dan strategi, atau kemampuan spasial mengenali arah dan lingkungan.
| Baca Juga: Bukan Cuma DHA, Ini Kolaborasi Nutrisi yang Dibutuhkan Otak Anak
Di balik keinginan melihat anak tumbuh optimal, ada tiga harapan besar orang tua yang saling berkaitan, yaitu anak tumbuh sehat, memiliki kemampuan intelektual yang baik, dan tidak tertinggal dari teman sebayanya.
Ketiganya, kata Dr. Ray, tidak bisa dipisahkan karena tubuh yang sehat menjadi syarat agar otak dapat menyerap stimulasi dengan baik.
Salah satu fondasi yang sering luput dari perhatian adalah kesehatan sistem pencernaan. Dalam ilmu kesehatan, hubungan antara otak dan usus dikenal sebagai gut-brain axis.
“Otak dan sistem pencernaan itu punya hubungan yang namanya bidireksional, saling ngobrol. Ada cross-talk lewat yang namanya gut-brain axis,” jelas Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia itu.
| Baca Juga: Teknologi Bayi Tabung Makin Canggih, tetapi Usia Tetap Jadi Penentu Utama
Hubungan dua arah ini menjelaskan mengapa kondisi emosional dapat memengaruhi pencernaan, dan sebaliknya. Rasa cemas pada anak misalnya kerap muncul dalam bentuk perubahan nafsu makan atau gangguan pencernaan.
Data Ikatan Dokter Anak Indonesia bahkan mencatat sekitar enam dari sepuluh pasien anak datang dengan keluhan terkait sistem pencernaan, angka yang menunjukkan persoalan ini bukan hal kecil.
Asupan serat menjadi salah satu kunci menjaga kesehatan usus karena menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di saluran pencernaan.
Dr. Ray menyebut tiga jenis prebiotik yang umum dikenal, yaitu FOS, GOS, dan inulin, yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme baik tersebut. Meski begitu, makanan keluarga tetap menjadi sumber utama nutrisi anak setelah usia satu tahun, sementara berbagai penelitian menunjukkan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak toddler dari makanan keluarga masih berkisar 40 sampai 60 persen.
| Baca Juga: Banjir Keringat Padahal Tak Kepanasan, Apa yang Sebenarnya Terjadi Pada Tubuh?
Selain nutrisi, lingkungan tumbuh kembang juga menjadi perhatian penting. Dr. Ray mengingatkan agar dorongan orang tua tidak berubah menjadi tekanan yang membuat anak stres.
“Untuk unlock the potential of the kid, orang tua harus berani push, berani ngasih pressure tanpa merasa berdosa, tanpa merasa bersalah, dan harus punya ekspektasi. Tapi push, pressure, dan ekspektasi itu dibarengi dengan memberikan environment yang bagus untuk menstimulasi dan unlock the potential,” jelasnya.
Stimulasi kognitif pun tidak harus selalu berbentuk les atau kegiatan belajar formal. Percakapan saat makan, bermain bersama, memasak, hingga menjawab pertanyaan anak dengan balasan seperti “Menurut kamu bagaimana?” dapat mendorong anak berpikir dan mencari solusi sendiri.
Pada akhirnya, rumah harus menjadi tempat anak merasa aman untuk mencoba dan gagal.
| Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Jantung Rematik, YJI Skrining 8.000 Anak SD
“Tugas kita sebagai orang tua adalah menyiapkan safe place, menyiapkan rumah yang aman buat si kecil untuk tumbuh berani gagal, berani mencoba, dan bisa menjadi individu,” tutur Dr. Ray.
Baginya, keberhasilan pengasuhan bukan diukur dari seberapa sering anak menang, melainkan dari keberanian anak untuk mencoba lagi setelah gagal, ditopang tubuh yang sehat, pencernaan yang terjaga, dan lingkungan yang membuatnya merasa aman menjadi dirinya sendiri. (*)







