Usai Pencarian Dihentikan, Istri Pewarta Foto Arie Basuki Tabur Bunga dan Kirim Doa
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Tangis Yanti sempat pecah saat ia bersama kedua anaknya menabur bunga di Selat Sunda dari bibir Pantai Pagedongan, Banten, untuk mendoakan suaminya, Arie Basuki (Arbas), pewarta foto Merdeka.com yang hilang bersama KM Arupadatu I saat menuju Gunung Anak Krakatau.
Prosesi itu digelar setelah operasi SAR resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026) malam tanpa hasil.
Pandangan Yanti dan keluarga besar tertuju ke laut Selat Sunda. Sesaat kemudian, mereka melantunkan doa-doa, mengiringi tabur bunga di Pantai Pagedongan.
Di sela lantunan doa, tangis Yanti pecah. Hanya sekejap, sebelum ia kembali terlihat tegar berdiri bersama keluarga di pinggir pantai.
| Baca Juga: Pencarian Jurnalis Hilang Kontak Diperpanjang, Ibunda Yudistiro Pranoto: Masih Ada Harapan
Prosesi berjalan singkat. Tabur bunga dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi orang yang dicintai yang belum kembali. Yanti yakin lantunan doa dari keluarga besarnya pasti didengar sang suami.
“Tabur bunga hanya simbolisasi saja, Mas, karena saya pamit mau pulang dan berdoa untuk keselamatan Arbas dan kawan-kawan,” ungkap Yanti.
Hingga operasi SAR berakhir, belum ada titik terang keberadaan Arie dan empat wartawan lainnya, yakni M Bagus Khoirunnas (Antara), Yudistiro Pranoto (iNEWS), Firman Daus (Anadolu), dan Donal Husni (freelance), serta tiga ABK.
Meski proses pencarian yang panjang belum membuahkan hasil, Yanti berterima kasih kepada tim SAR, Gubernur Banten, Polda Banten dan TNI yang telah bekerja maksimal.

Selama pencarian, Yanti pun tidak tinggal diam. Pada hari ketiga, ketika titik terang belum juga muncul, ia bersama istri jurnalis lain ikut terjun ke lapangan. Mereka menaiki kapal Polairud Mabes Polri untuk menyusuri Selat Sunda bersama tim SAR gabungan, dengan harapan Arie kembali pulang dengan selamat.
Namun, setelah 10 hari tanpa hasil, Yanti mengaku akhirnya pasrah dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.
“10 hari pencarian adalah masa yang sangat berat bagi kami. Saya berusaha menenangkan diri saya sendiri dulu agar anak saya juga bisa tenang menghadapi cobaan ini, sambil memberikan pemahaman untuk ikhlas dan tawakal kepada Allah SWT,” tutur Yanti.







