Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Rajin berlari, bersepeda, dan berenang ternyata tidak menjamin seseorang terbebas dari stroke. Hal itu dialami Iwet Ramadhan, penyiar radio yang telah menyelesaikan sejumlah maraton besar dunia, tetapi tetap terkena stroke pada 2023 akibat hipertensi yang tidak ia sadari.

“Yang terjadi pada saat itu adalah saya memupuk sebuah penyakit yang disebut sebagai silent killer, which is hipertensi,” ujar Iwet saat kegiatan World Heart Day 2026 yang diadakan OMRON Healthcare Indonesia di Jakarta baru-baru ini.

Pemilik nama lengkap Wethandrie Ramadhan itu menyelesaikan maraton di Bali, Berlin, dan New York pada 2017 hingga 2019, lalu menuntaskan target enam World Major Marathon pada 2023.

Saat stroke datang, ia bahkan sedang berlatih triathlon. Namun, pandemi membuat jam kerjanya panjang, stres menumpuk, dan waktu tidur berantakan.

| Baca Juga: Bukan Sekedar Jago Main Gim, Ini Alasan Tubuh Atlet Esports Harus Dilatih

“Udah stres banget dengan pekerjaan, dengan kondisi dengan segala macam, tidurnya berantakan. Olahraganya jalan terus. Larinya tetap jalan, sepedanya tetap jalan, berenangnya tetap jalan. Saya waktu itu lagi latihan triathlon,” kata laki-laki kelahiran Bantul, 24 Juli 1981 itu.

Iwet mengalami stroke akibat pecahnya pembuluh darah di lapisan otak. Ironisnya, saat dibawa ke rumah sakit ia masih merasa mampu berjalan sendiri.

“Saya bilang, saya bisa jalan sendiri,” kenangnya. Hasil MRI menunjukkan adanya perdarahan sehingga ia harus segera menjalani operasi dengan kepala dibuka.

Di ruang operasi, ia hanya bisa berserah.

| Baca Juga: Meski BB turun 65 Kg, Ivan Gunawan Masih Kejar Target Kurangi 15 Kg Lagi

“Waktu masuk ruang operasi, kalimat aku cuma gini, Tuhan, aku serahkan hidup dan matiku kepada-Mu,” katanya.

Ketika terbangun, hal pertama yang ia sadari adalah dirinya masih hidup. “Begitu bangun, Alhamdulillah, gue masih dikasih hidup. Napas, udah,” ujarnya.

Pengalaman itu mengubah cara Iwet memandang kesehatan. Menurutnya, olahraga tetap penting, tetapi tidak boleh membuat faktor lain diabaikan.

“Jangan pernah beranggapan bahwa yang tidak banyak bergerak saja yang punya risiko. Jangan. Yang bergerak pun punya risiko,” tegasnya.

| Baca Juga: Dion Wiyoko Tak Lagi Kejar Tubuh Ideal, Kini Ingin Tetap Sehat untuk Keluarga

Setelah stroke, ia juga mengurangi garam karena mengaku menyukai makanan asin. “Saya itu tipe savory. Saya suka makanan asin. Tapi saya nggak suka jeroan. Itu sebabnya kolesterol saya baik-baik saja. Tapi darah tinggi karena saya suka makan asin,” ujarnya.

Makanannya kini memang lebih hambar, tetapi menurutnya itu jauh lebih mudah diterima dibandingkan risiko yang pernah ia hadapi.

Kini pesan kesehatan yang ingin ia sampaikan dibuat sederhana, yakni cek tekanan darah secara berkala dan jangan lewatkan medical check-up.

“Message-nya clear kok. Nomor satu, aware. Aware tuh apa? Cek tensi deh, paling mudah,” ujar Co-Founder DVET Siaran Pagi IP dan Head of Communications Yayasan Jantung Indonesia itu.

| Baca Juga: Meski Pakai Kursi Roda, Jaja Mihardja Tak Berhenti Beraktivitas di Usia 81

Prioritas kedua adalah tidur. “Kalau tidur lu berantakan, percuma. Gula lu udah lu kontrol kayak apa pun, tidur lu berantakan, percuma,” ujar Iwet.

Untuk menjaga ritme hidup, Iwet kini bangun pukul 04.30, meditasi, lalu berolahraga seperti lari sekitar lima kilometer, angkat beban, atau berenang. “Saya mau ngabisin energi saya,” katanya. Sekitar pukul 21.00, ia sudah merasa lelah dan bisa segera tidur.

Pengalaman itu juga mendorongnya menjadi pegiat edukasi kesehatan. “Waktu masuk ke kamar rawat inap, setelah ini pokoknya gue akan menjadi advokat, mengadvokasi masalah kesehatan, terutama kesehatan pembuluh darah dan jantung,” katanya.

Bagi Iwet, kesehatan bukan sekadar tentang seberapa jauh kaki mampu berlari, melainkan seberapa baik seseorang mengenali kondisi tubuhnya sendiri, sebelum tubuh itu memaksanya berhenti. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: