Teater Satu Lampung Pentaskan 'Musyawarah Burung', Bawa Kritik Sosial Zaman Kini
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Teater Satu Lampung membawa karya terbarunya, Musyawarah Burung. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Iswadi Pratama, pertunjukan berdurasi 150 menit ini menghidupkan kembali khazanah sastra klasik Persia Mantiq al-Tayr melalui tafsir yang relevan dengan situasi sosial, politik, dan kemanusiaan masa kini.
Pementasan ini bukan sekadar menghadirkan kisah spiritual para burung, melainkan menjadikannya metafora untuk membaca kondisi sebuah negeri yang tengah menghadapi berbagai persoalan akibat ego manusia, terutama mereka yang memegang kekuasaan.
Iswadi Pratama menjelaskan bahwa Musyawarah Burung diadaptasi dari novel klasik karya penyair sufi Persia, Fariduddin Attar, yang ditulis pada abad ke-12 hingga ke-13. Dalam karya aslinya, perjalanan burung merupakan simbol perjalanan jiwa manusia menuju penyucian diri.
Namun, dalam versi Teater Satu Lampung, kisah tersebut ditafsirkan ulang menjadi refleksi terhadap kehidupan masyarakat modern.
| Baca Juga: Dulu Takut Akting, Anggun C Sasmi di Usia 52 Tahun Justru Cari Tantangan Baru
"Saya mencoba melakukan tafsir terhadap novel ini menjadi sebuah naskah pertunjukan, yang saya sebut sebagai tafsir kontekstual," kata Iswadi Pratama saat ditemui di Komunitas Salihara Art Center, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat malam (18/9/2026).
Kritik Sosial yang Disampaikan Lewat Simbol Burung
Iswadi mengakui pertunjukan ini merupakan kritik terhadap situasi yang terjadi saat ini. Namun kritik tersebut tidak disampaikan secara gamblang, melainkan melalui pendekatan simbolik dan semiotik.
Ia mengaitkan perjalanan para burung, seperti burung Rajawali, Hantu hingga Merak dengan kondisi sosial dan geopolitik hari ini. Negeri digambarkan sedang 'tenggelam' dan membutuhkan penyelamatan.
Perjalanan spiritual para burung berubah menjadi perjalanan moral yang harus ditempuh oleh para pemimpin, intelektual, aktivis, hingga rakyat.
| Baca Juga: Jelang Pentas, 'Home Sweet Loan The Musical' Ungkap Perubahan Cerita dari Novel dan Film
"Jika para pemimpin tidak menjadikan dirinya sebagai pusat, tetapi mengutamakan rakyat dan masyarakat yang dipimpinnya, maka negeri ini akan selamat dan sejahtera," ujarnya.
Iswadi sengaja mempertahankan judul Musyawarah Burung karena merupakan terjemahan langsung dari judul asli Mantiq al-Tayr.
Baginya, kata 'musyawarah' memiliki makna penting sebagai ajakan untuk kembali berkumpul, berdialog, dan saling mendengarkan demi masa depan negeri. Ia juga mengingatkan bahwa karya klasik ini pernah digarap maestro teater dunia Peter Brook pada periode 1974–1979.
Proses Kreatif Hampir Satu Tahun
Produksi Musyawarah Burung dipersiapkan hampir selama satu tahun sejak Desember tahun sebelumnya. Tahap awal diisi latihan fisik, observasi berbagai jenis burung, hingga mengembangkan bahasa tubuh setiap karakter.
| Baca Juga: Macklemore Tak Lagi Jadi Opening Act Ed Sheeran usai Serukan 'Free Palestine'
Para aktor mempelajari gestur rajawali, merak, pipit, gagak, dan jenis burung lainnya sebelum masuk ke proses pendalaman naskah selama sekitar lima bulan.
Tantangan terbesar, menurut Iswadi, adalah menciptakan karakter burung tanpa menjadikannya tiruan burung secara harfiah.
"Para aktor harus memainkan dua karakter sekaligus: sebagai burung dan sebagai penempuh atau manusia," ujarnya.
Berbeda dengan pertunjukan bertema fauna pada umumnya, Musyawarah Burung tidak menggunakan kostum burung secara penuh.
| Baca Juga: Cheng Lei Berkaca-kaca Melihat Lautan Penggemarnya di Jakarta
Aktor hanya mengenakan penanda sederhana berupa aksen bulu pada kostum. Identitas setiap burung dibangun melalui gestur, ritme gerak, dan ekspresi tubuh.
Dipentaskan 14 Aktor Selama Dua Setengah Jam
Pertunjukan ini dimainkan tanpa jeda atau intermisi selama sekitar dua setengah jam. Sebanyak 14 aktor tampil bersama lima pemusik, didukung penata cahaya dan kru produksi, sehingga total sekitar 35 orang terlibat.
Iswadi menyebut sekitar 85 persen pertunjukan mengandalkan gerak fisik yang berlangsung terus-menerus. Menyamakan stamina seluruh pemain menjadi tantangan besar selama latihan.
Sebelum tampil di Jakarta, Musyawarah Burung lebih dulu dipentaskan di Taman Budaya Lampung pada 14–15 September 2026. Antusiasme penonton di Lampung disebut sangat tinggi hingga banyak calon penonton tidak mendapatkan tiket. Pentas berlanjut selama dua hari di Komunitas Salihara Jakarta, pada 19–20 September 2026. (*)






