Kawai Labiba, Denisha Wahyuni dan Fadi Alaydrus Bagikan Fakta Film 'Putri Jangan Gentayangan Lagi'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleJadi Pelajaran Hidup
Di balik ketegangan mistis yang disajikan, ketiga pemeran memetik pesan moral mendalam dari kisah Putri, Jangan Gentayangan Lagi. Fadi menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam mengelola finansial pribadi berkaca dari nasib karakternya.
"Dari karakter Wira, aku belajar tentang pentingnya mengelola keuangan (money management). Masalah Wira di film ini muncul salah satunya karena dia kurang bijak dalam mengelola uang. Dia membangun usaha biliar sebagian untuk gengsi, lalu harus meminjam uang hingga terjadi efek domino dan karma buat dirinya sendiri," terang Fadi.
| Baca Juga: Oki Rengga dan Mathias Muchus jadi Anak dan Bapak di Film Komedi Satir 'Gak Ada Matinya'
Sementara itu, Denisha memetik hikmah tentang kematangan bersikap bagi generasi muda. Saat menentukan pilihan hidup, harus memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.
"Di usia 20-an awal ini kan banyak pilihan, dan Alana sering mengambil keputusan yang kurang tepat karena merasa masih muda dan menyepelekan dampaknya," kata Denisha.
Kawai menyampaikan pesan penting mengenai keterbukaan emosional dalam lingkup keluarga. "Dari Putri, aku belajar bahwa tidak apa-apa untuk meminta.tolong dan bercerita kepada orang tua atau sahabat terdekat jika sedang menghadapi masalah. Tidak semua hal harus dipikul dan diselesaikan sendirian," pungkas Kawai.
Kisah film ini berpusat pada kehidupan seorang keluarga yang mendadak hancur setelah kepergian seorang anak perempuan yang bernama Putri. Kematian Putri yang diperankan oleh Kawai Labiba yang mendadak meninggalkan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya.
Namun, rasa duka tersebut perlahan berubah menjadi deretan kejadian mistis ketika arwah Putri tak kunjung tenang dan mulai menampakkan diri di sudut-sudut rumah tempat ia dibesarkan. Ia tak hanya mengganggu, melainkan juga memberi pesan yang belum tersampaikan. (*)







