Kawai Labiba, Denisha Wahyuni dan Fadi Alaydrus Bagikan Fakta Film 'Putri Jangan Gentayangan Lagi'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Rumah produksi MVP Pictures resmi mengangkat kisah mistis viral dari kanal YouTube 'Lentera Malam' ke layar lebar melalui film berjudul 'Putri Jangan Gentayangan Lagi'.
Film arahan sutradara Rizal Mantovani ini memadukan kekuatan supranatural dengan drama emosional yang bersumber dari kisah nyata.
Tiga pemeran utamanya, Kawai Labiba, Fadi Alaydrus, dan Denisha Wahyuni, membagikan pengalaman mereka selama proses penggarapan film tersebut.
Memerankan cerita nyata yang telah memiliki lebih dari 25 juta views di YouTube Lentera Malam yang dibawakan host Jamal menjadi tantangan tersendiri bagi Kawai Labiba.
| Baca Juga: 4 Tahun Belajar Bahasa Thai, Gandhi Fernando Jadi Sutradara Series Thailand
Kawai yang memerankan tokoh utama almarhumah Putri, mengaku memikul beban mental dan moral yang tidak ringan saat menerima tawaran proyek ini.
"Bebannya selain cerita ini diangkat dari kisah nyata, juga ada Mak Eli yang asli (ibu Putri), ada mendiang Putri yang asli juga," jelas Kawai saat media visit ke redaksi Vivia Media di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Memerankan Sosok Nyata dan Penyesuaian Karakter
Kawai menambahkan bahwa rasa cemas muncul terkait respon dari pihak keluarga mendiang. Walaupun memang film ini adalah adaptasi sehingga ada pengembangan cerita dan karakter, bahkan ada penambahan karakter baru.
"Tapi beban memerankan tokoh asli—apalagi aku memerankan almarhumah—itu masih tetap ada rasanya. Karena takut menyinggung kah, atau sesuai kah dengan Mak Eli juga, apakah approved, gitu. Kalau dari aku sih ada pasti bebannya," jelasnya.
| Baca Juga: Sisca Saras Bertukar Voice Note dengan Lydia Kandou demi Peran di Sekuel 'Kuasa Gelap'
Kondisi berbeda dialami oleh Fadi Alaydrus yang memerankan karakter Wira, kekasih Alana, adik Putri.
Mengingat Wira adalah karakter fiktif yang sengaja ditambahkan untuk memperkuat alur cerita, tekanan yang dirasakannya tak sebesar yang dirasakan Kawai. Meski pada awal menerima sinopsis ia sempat merasa terbebani apalagi ini menjadi film berdasarkan kisah nyata pertamanya.
"Sempat mikir, 'Oh begini ya rasanya,' ada deg-degannya. Tapi ketika dikasih tahu Karakter Wira ini diadakan untuk membantu ceritanya jadinya less pressure, lebih fun lagi ngejalaninnya," ungkap Fadi.
Sementara itu, Denisha Wahyuni menerangkan bahwa karakter Alana yang ia perankan juga merupakan hasil adaptasi dan perampingan dari fakta asli.
"Karena kalau di podcast-nya, Kak Putri ini adiknya ada tujuh. Tapi di film kita bikin adiknya hanya dua. Jadi aku punya adik lagi namanya Agnes, diperankan sama Fatimah," papar Denisha.
Denisha turut mengonfirmasi pentingnya kehati-hatian dalam merepresentasikan keluarga korban. Untuk itu, ia sering bertanya ke Mak Eli seperti apa Putri kepada adik-adiknya semasa hidup.
"Mak Eli asli waktu itu juga menceritakan adik-adiknya Kak Putri itu sebenarnya melihat Kak Putri seperti apa. Karena sebagai orang yang memerankan adiknya juga, harus melihat almarhumah Kak Putri itu seperti apa, harus berhati-hati juga karena ada kehidupan orang-orang nyata yang kita libatkan di sini," sambung Denish yang debut di film horor.
Adegan Paling Berkesan
Terkait proses produksi di lokasi syuting, Kawai menyebutkan adegan penjemputan Putri oleh Mak Eli dan Alana—yang sempat terlihat di cuplikan trailer—menjadi momen paling krusial secara dramatis.
| Baca Juga: Dito Darmawan Jalani Makeup Rumit Selama 2 Jam Demi Cosplayer Pocong
"Banyak sih sebenarnya. Mungkin salah satunya yang sudah ada di trailer, yaitu saat Putri dijemput oleh Mak Eli dan Alana. Itu tensi dramanya lumayan tinggi, berada di titik puncaknya di situ. Selain itu, ada satu adegan lagi yang melibatkan perpaduan antara aspek teknis (practical effect) dan emosi drama yang sangat tebal sebagai konklusi film ini," ungkap Kawai.
Bagi Fadi Alaydrus, adegan penutup atau Final Battle menjadi momen yang paling membekas dalam ingatannya.
Jadi Pelajaran Hidup
Di balik ketegangan mistis yang disajikan, ketiga pemeran memetik pesan moral mendalam dari kisah Putri, Jangan Gentayangan Lagi. Fadi menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam mengelola finansial pribadi berkaca dari nasib karakternya.
"Dari karakter Wira, aku belajar tentang pentingnya mengelola keuangan (money management). Masalah Wira di film ini muncul salah satunya karena dia kurang bijak dalam mengelola uang. Dia membangun usaha biliar sebagian untuk gengsi, lalu harus meminjam uang hingga terjadi efek domino dan karma buat dirinya sendiri," terang Fadi.
| Baca Juga: Oki Rengga dan Mathias Muchus jadi Anak dan Bapak di Film Komedi Satir 'Gak Ada Matinya'
Sementara itu, Denisha memetik hikmah tentang kematangan bersikap bagi generasi muda. Saat menentukan pilihan hidup, harus memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.
"Di usia 20-an awal ini kan banyak pilihan, dan Alana sering mengambil keputusan yang kurang tepat karena merasa masih muda dan menyepelekan dampaknya," kata Denisha.
Kawai menyampaikan pesan penting mengenai keterbukaan emosional dalam lingkup keluarga. "Dari Putri, aku belajar bahwa tidak apa-apa untuk meminta.tolong dan bercerita kepada orang tua atau sahabat terdekat jika sedang menghadapi masalah. Tidak semua hal harus dipikul dan diselesaikan sendirian," pungkas Kawai.
Kisah film ini berpusat pada kehidupan seorang keluarga yang mendadak hancur setelah kepergian seorang anak perempuan yang bernama Putri. Kematian Putri yang diperankan oleh Kawai Labiba yang mendadak meninggalkan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya.
Namun, rasa duka tersebut perlahan berubah menjadi deretan kejadian mistis ketika arwah Putri tak kunjung tenang dan mulai menampakkan diri di sudut-sudut rumah tempat ia dibesarkan. Ia tak hanya mengganggu, melainkan juga memberi pesan yang belum tersampaikan. (*)







