Raditya Dika Pernah Menyepelekan Perawatan Gigi, Sakit Gigi Saat Lebaran Mengubah Kebiasaannya
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Bagi Raditya Dika, perawatan gigi bukan sekadar soal noda kopi yang mengganggu penampilan. Komedian sekaligus penulis itu mengaku pernah baru mencari pertolongan ketika sakit gigi sudah tak tertahankan, hingga pengalaman sakit gigi saat libur Lebaran menyadarkannya bahwa mencegah jauh lebih baik daripada menunggu masalah muncul.
Saat itu, ia harus mencari dokter gigi yang bukan praktik di rumah karena kebanyakan praktik tutup.
“Memori itu masih ada di kepala saya, betapa repotnya kalau kita tidak melakukan pencegahan sebelum sakit gigi terjadi. Kita tidak pernah tahu kapan masalah itu muncul, bahkan saat sedang liburan atau tidak ada acara apa-apa,” ujar Raditya saat bincang-bincang tentang usmile: New Smile With Raditya Dika di kawasan Ampera, Jakarta, pada Jumat (23/10).
Dari Menunggu Sakit Menjadi Peduli Pencegahan
Raditya menilai banyak orang masih menunda pemeriksaan hingga rasa sakit datang. Padahal, perawatan sederhana yang dilakukan konsisten dapat menekan risiko masalah gigi dan mulut.
| Baca Juga: Gigi Sudah Rajin Disikat tapi Tetap Kuning, Haruskah Khawatir?
Dulu, ia mengaku mengira menyikat gigi saja sudah cukup. Ia baru mengenal pentingnya membersihkan lidah saat kuliah, dan memahami flossing setelah membaca forum internet luar negeri. “Sekarang rutinitas perawatan gigi dan mulut saya jauh lebih lengkap dibandingkan sepuluh tahun lalu,” katanya.
Pengalaman memakai kawat gigi, saat sisa makanan lebih mudah tersangkut, membuatnya semakin sadar akan tantangan membersihkan sela gigi. Dari situ ia mengenal water flosser, alat pembersih sela gigi berbasis semprotan air.
Kopi, Noda Gigi, dan Teknik yang Tepat
Sebagai penikmat kopi, Raditya memperhatikan noda pada permukaan giginya. Dokter giginya pernah menyarankan memakai sedotan untuk mengurangi kontak kopi dengan gigi, meski kebiasaan itu bukan pengganti perawatan yang benar.
Pekerjaannya yang membuatnya sering tampil di depan kamera juga membuat napas segar dan gigi terawat menjadi penunjang rasa percaya diri.
| Baca Juga: Cegah Gigi Berlubang pada Anak, Mulai dari Enam Kebiasaan Kecil di Rumah
Namun, warna gigi bukan satu-satunya tolok ukur kesehatan. Gigi yang tampak putih belum tentu lebih sehat karena warna alami tiap orang berbeda, sehingga kebersihan dan kesehatan seharusnya menjadi prioritas ketimbang sekadar mengejar tampilan lebih putih.
Kebiasaan sederhana yang konsisten menjadi fondasi utama, termasuk teknik menyikat gigi yang tepat. Setelah berdiskusi dengan dokter gigi, Raditya mulai memperbaiki caranya menyikat gigi karena sadar kebiasaan yang selama ini dijalani belum tentu benar.
Menyikat gigi setiap hari tidak menjamin perawatan sudah benar. Selain disiplin, dibutuhkan pemahaman tentang cara yang tepat.
Edukasi yang Mudah Dipahami
Menurut Raditya, informasi kesehatan gigi perlu disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah diterapkan, disertai alasan di balik setiap anjuran.
| Baca Juga: Sering Bernapas Lewat Mulut saat Olahraga? Hati-hati, Gigi Bisa Lebih Cepat Rusak
Sebelum bekerja sama di bidang ini, ia banyak bertanya kepada tim dan tenaga ahli agar memahami lebih dulu hal yang disampaikan kepada audiens, mengingat informasi kesehatan berpotensi memengaruhi keputusan orang lain.
Pengalaman Raditya menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan tak selalu bermula dari pengetahuan lengkap. Terkadang, rasa sakit, percakapan dengan ahli, atau rasa penasaran sederhana sudah cukup menjadi titik awal untuk memperbaiki rutinitas. (*)







