Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Dimas Seto mengingatkan pelari pemula agar tidak terburu-buru mengejar kecepatan saat mulai menekuni olahraga lari. Menurutnya, konsistensi latihan dan kemampuan menjaga daya tahan tubuh lebih penting daripada memaksakan diri berlari cepat.

Suami Dhini Aminarti itu sudah menekuni olahraga lari sejak 2013. Pengalamannya selama lebih dari satu dekade membuatnya memahami bahwa kemampuan berlari tidak terbentuk dalam waktu singkat.

Dimas bahkan mencatatkan waktu terbaik dengan pace 4 saat mengikuti maraton. Meski demikian, ia menilai kemampuan seseorang dalam berlari sangat bergantung pada kebiasaan latihan, bukan semata-mata bakat.

"Kalau personal best saya ya adalah di 4 (saat maraton), 4 pas ya. Lumayanlah," kata Dimas Seto saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

| Baca Juga: Bukan Sekadar Lari, Ini Rahasia Gisel Bisa Finis Chicago Marathon di 4 Jam 46 Menit

"Kalau lari tuh ada yang bilang, 'Wah lu jago ya larinya'. Lari tuh enggak ada yang jago. Seberapa rutin aja diolahraga," imbuh finisher empat World Major Marathon itu.

Ia mencontohkan, kemampuan pelari berpengalaman pun bisa menurun apabila lama berhenti berlatih. Karena itu, menjaga rutinitas menjadi hal penting bagi siapa pun yang ingin meningkatkan performa.

"Tapi kalau lari, ya sekelas ibaratnya Mas Agus Prayogo, enggak lari benar-benar setahun, ya sama aja lebih cepat teman-teman yang larinya rutin latihannya," tegasnya.

Selain menjaga jadwal latihan, Dimas menyarankan pelari untuk membangun daya tahan tubuh dan meningkatkan kemampuan pernapasan. Salah satu aspek yang perlu dilatih adalah VO2 max, yakni kemampuan tubuh menggunakan oksigen ketika melakukan aktivitas fisik.

| Baca Juga: Tiga Tahun Konsisten, Ini Rahasia Febby Rastanty Tetap Tekuni Dunia Lari

"Jadi memang perlu banget yang namanya kita lari itu melatih yang namanya VO2 max, ketahanan tubuh itu ya," jelasnya.

Untuk pemula, Dimas menyarankan agar latihan dimulai dengan kecepatan rendah sebelum beralih ke intensitas yang lebih tinggi. Ia menilai kebiasaan langsung berlari cepat tanpa membangun fondasi fisik terlebih dahulu bukan pendekatan yang tepat.

"Jadi memang kalau lari itu kalau menurut saya ya seberapa rutin kita konsisten untuk latihan, dari pace-pace yang rendah biasanya kan main di zona 3, pelan-pelan. Kadang-kadang orang ada yang langsung cepat-cepat, itu salah tuh. Intinya semua butuh proses," pungkasnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: