Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Selain lari, panjat tebing kini menjadi pilihan olahraga yang digemari anak muda. Aktivitas penuh tantangan dan adrenalin ini menuntut kekuatan, teknik, dan mental yang kuat.

Gambarannya terlihat setiap Jumat malam di Plaza Festival, Jakarta Selatan. Dari 115 peserta dalam daftar antrean, tak seorang pun berhasil mencapai puncak dinding setinggi 15 meter.

Mereka bukan atlet profesional, melainkan pemanjat amatir yang tergabung dalam Komunitas Jumat Manjat dan berlatih tiga jam setiap pekan.

Ada dua tower di sana. Tower cokelat untuk pemula, tempat pelatihan lead climbing, yakni memasang tali dari bawah ke atas, yang wajib diikuti semua peserta. Tower biru untuk pemanjat berpengalaman. Dinding buatan itu punya beragam rute dengan tingkat kesulitan berbeda, lengkap dengan pegangan dan pijakan yang disesuaikan.

| Baca Juga: Dari Deteksi Polip hingga Hama Sawah, 3 Mahasiswa UPH Manfaatkan Komputasi GPU jadi Inovasi

Saat Vivia Media menyaksikan kegiatan ini, sekitar 70 persen pesertanya perempuan, kebanyakan pemula. Sebelum memanjat, para senior mengumpulkan peserta untuk pemanasan dan mengajarkan teknik yang benar. Memanjat tak perlu buru-buru karena ingin cepat sampai puncak.

Peserta diajari cara bertahan, mengatasi takut ketinggian, dan membangun percaya diri. Teknik turun pun diperhatikan: kedua kaki harus lurus, tidak menekuk, demi menghindari cedera tulang belakang.

“Sejauh ini belum ada perempuan yang sampai ke atas, paling tinggi sekitar 70 persen dari dinding. Untuk sampai atas, stamina harus kuat dan tekniknya harus lebih terlatih,” kata Hasbiarahman Efendi, salah satu inisiator komunitas.

Pemula umumnya mampu memanjat 8 sampai 10 meter, capaian yang sudah sangat bagus. Ada pula peserta baru yang beberapa meter naik sudah tak kuat dan jatuh.

| Baca Juga: Andien Tambah Lagi Sekolah Anak Percaya, Warga Kampung Apung Bisa Dapat Pendidikan Gratis

Dari bawah, pemandu terus mengarahkan penempatan kaki dan pijakan dengan sinar laser, sambil berseru, “Terus naik, kaki diangkat, badan didorong, tangan pindahkan.” Tak jarang peserta menjawab, “Nggak kuat.”

Komunitas ini berdiri tiga tahun lalu, digagas sekelompok anak muda penghobi aktivitas di ketinggian. Peserta yang ikut umumnya sudah terbiasa berolahraga seperti berenang dan lari, tetapi tetap kesulitan mencapai puncak karena panjat tebing menuntut teknik yang berbeda.

1 2

Tags: