Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Meski digelar seminggu sekali setelah jam kantor, kegiatannya berkembang pesat dan telah diikuti lebih dari 1.500 peserta. Kegiatan ini gratis, tak ada kewajiban menjadi anggota.

“Orang bebas datang dan pergi, kapan aja,” kata Hasbi. Sekitar 200 orang yang kerap hadir bergabung di grup WhatsApp. Komunitas juga tidak memungut tiket, pembayaran bersifat sukarela. “Yang bikin orang balik tiap Jumat adalah teman-teman yang nyemangatin dari bawah dinding,” ujarnya.

Pelatih pemandu mengajarkan teknik dan cara memasang tali panjat dinding yang benar. Foto: Reza Wibisono

Media sosial ikut mendongkrak peminat. Banyak peserta datang setelah melihat video viral, lalu penasaran mencoba. Ada pula yang ingin menguji adrenalin. “Gagal pengen lagi. Kelihatannya gampang, pas dicoba nggak segampang itu,” ucap Hasbi menirukan peserta.

Menurut Hasbi, panjat tebing juga dapat mengubah sikap seseorang, menjadikannya lebih hati-hati terhadap risiko dan lebih sadar akan keselamatan. Ia menilai panjat tebing kini menjadi tren karena anak muda pekerja lebih menyukai olahraga ekstrem, meski ia mengaku pandangan itu mungkin subjektif.

Ia juga menegaskan bahwa komunitasnya tidak mencetak atlet. “Konsep kita kebersamaan. Kita melakukan ini karena hobi,” jelasnya. Sesekali, mereka berlatih di alam, di Bandung atau Bogor, dan komunitas ini sudah tergabung dalam Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Aisyah, pegawai OJK, baru dua kali ikut. Ia tertarik setelah melihat video di internet dan diajak teman. Setelah memastikan peralatan aman, ia melewati lima meter pertama dengan lincah. Memasuki meter berikutnya, geraknya melambat dan sesekali ia melepas pegangan untuk menghilangkan pegal.

| Baca Juga: Debu Semen hingga Mesin Jahit, Dua Seniman Raih Grand Prize Kompetisi Seni Asia Tenggara

Di ketinggian 8 meter, pemandu mulai memberi arahan dengan sinar laser. Namun satu meter berikutnya ia tak sanggup melanjutkan. “Lepas, enggak kuat,” teriaknya. “Lumayan agak jauh dibanding minggu lalu.”

Elda, penggemar yoga dan lari, juga penasaran setelah diajak teman. Cengkeraman tangannya belum cukup kuat sehingga ia jatuh di bagian awal. “Susah ternyata,” ujarnya. Namun ia bertekad terus berlatih agar suatu hari bisa sampai ke puncak. “Belum puas, harus sampai ke atas,” katanya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: