Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Meski demikian, kebiasaan tersebut juga dapat berkaitan dengan kondisi tertentu, termasuk gangguan saraf, masalah otot, dan autisme. Artinya, berjalan jinjit saja tidak cukup untuk menyimpulkan seorang anak mengalami autisme.

Dilansir dari CDC, penilaian autisme mempertimbangkan perkembangan komunikasi, interaksi sosial, serta pola perilaku anak. Orangtua sebaiknya tidak langsung menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu kebiasaan fisik.

| Baca Juga: Stop Buru-Buru Ajari Anak Akademik, Begini Tahapan yang Benar Menurut Dokter Anak

Kapan Orangtua Perlu Memeriksakannya?

Orangtua disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika anak masih berjalan jinjit setelah berusia 2 tahun.

Pemeriksaan lebih awal diperlukan apabila anak kesulitan menapak dengan tumit, memiliki otot kaki yang kaku, atau menunjukkan gangguan koordinasi.

Orangtua juga perlu mencari saran medis jika anak hanya berjinjit pada satu kaki, mendadak berjalan jinjit setelah sebelumnya berjalan normal, atau mengalami nyeri dan kesulitan menjaga keseimbangan.

Bisa Dilatih di Rumah?

Jika anak masih dalam tahap belajar berjalan, orangtua dapat mengamati perkembangannya dan mengajaknya bermain sambil berdiri dengan telapak kaki menapak.

| Baca Juga: Gaya Hidup dan Ketidakseimbangan Hormon di Balik Meningkatnya Kasus Kanker Endometrium

Namun, hindari memaksa anak atau melakukan peregangan tanpa arahan tenaga kesehatan.

Apabila kebiasaan tersebut menetap atau disertai tanda lain, dokter anak dapat menilai pola berjalan, kekuatan otot, serta fleksibilitas kaki dan menentukan apakah terapi fisik diperlukan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: