Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Tantangan itu semakin terasa ketika kebaya kembali populer di kalangan anak muda. Meningkatnya minat mengenakan kebaya merupakan perkembangan positif, tetapi Vielga menilai tren tersebut belum tentu diikuti pemahaman mengenai proses pembuatannya.

Ia melihat sebagian orang cukup puas mengenakan kebaya yang terlihat menarik dengan harga terjangkau, tanpa mempersoalkan teknik yang digunakan. Bukan berarti setiap anak muda harus memilih busana dengan bordir manual, tetapi menurut Vielga, mereka perlu mengetahui perbedaan proses dan dampak pilihannya terhadap kehidupan para perajin.

| Baca Juga: Chiki Fawzi Bawa Suara Kemanusiaan ke Panggung JMFW 2026 Lewat Koleksi ‘Stay Eling’

“Yang perlu mereka pahami adalah bahwa di balik sehelai kebaya yang dipakai, ada orang-orang yang menggantungkan hidup pada pekerjaan itu. Ada nilai yang harus kita lihat, bukan hanya apakah bajunya bagus atau murah,” ujarnya.

Untuk memperlihatkan proses tersebut, Vielga membawa peralatan bordir ke acara yang dihadiri publik dan berencana mengadakan lokakarya bagi anak muda. Ia juga memanfaatkan peragaan busana dan kegiatan bersama mahasiswa sebagai ruang untuk mempertemukan kebaya dengan generasi yang lebih akrab dengan tren modern.

Menurutnya, proses merancang dan proses mewujudkan karya tetap memiliki perbedaan. Visual yang dihasilkan teknologi tidak otomatis menggantikan keterampilan tangan yang dibutuhkan untuk menyulam, memotong kain, membentuk kerancang, dan menggabungkan detail warna. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: