Jangan Asal Bulking demi Tubuh Berotot, Pelatih Ingatkan Pentingnya Latihan dan Nutrisi
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Keinginan memiliki tubuh berotot kerap membuat orang terburu-buru menambah beban latihan atau mengonsumsi protein berlebihan. Padahal, membangun massa otot bukan sekadar soal seberapa berat beban yang diangkat atau seberapa banyak makanan yang dikonsumsi.
Tanpa program latihan dan nutrisi yang tepat, upaya tersebut justru berisiko berujung cedera.
Pelatih kebugaran Fernando Surya mengingatkan bahwa bulking perlu direncanakan matang, mulai dari program latihan, target yang ingin dicapai, hingga kecukupan protein. Hal itu disampaikannya di sela kegiatan L-Men 25 Years-Be Stronger for More di Plant Nutrifood Cibitung, Rabu (28/10).
Menurut pria yang akrab disapa Nando ini, latihan kekuatan memang menjadi kunci, tetapi intensitasnya harus ditingkatkan bertahap lewat prinsip progressive overload, yakni menambah beban seiring kemampuan tubuh.
| Baca Juga: Dimas Seto Ungkap Kunci Lari Maraton, Pemula Diminta Bangun Stamina Bertahap
Memaksakan beban tanpa melihat kesiapan fisik justru meningkatkan risiko cedera dan menghambat target. Karena itu, ia menyarankan pendampingan pelatih, terutama bagi pemula. Informasi latihan di media sosial memang mudah didapat, tetapi program yang cocok bagi satu orang belum tentu sesuai bagi yang lain.
Di tengah maraknya konten kebugaran, tubuh berotot kerap dianggap tolok ukur keberhasilan berolahraga. Nando mengingatkan bahwa penampilan bukan satu-satunya tujuan.
“Menurut saya, hasil dari bentuk fisik itu bonus. Kalau kita berolahraga, tujuan utamanya tentu ingin sehat. Jangan sampai kita justru mengalami cedera karena berolahraga,” ujarnya.
Meski begitu, ia memahami motivasi setiap orang berbeda. Ada yang ingin tampil atletis, mengejar daya tahan lewat lari atau latihan intensitas tinggi, atau memilih olahraga permainan seperti basket, futsal, bulu tangkis, dan padel agar lebih menyenangkan.
| Baca Juga: Indonesia Punya Kedai Kopi Terbanyak di Dunia, Ini Cara Memilih Kopi yang Cocok untuk Tubuh
Bagi L-Men of The Year 2006 ini, tidak ada olahraga yang wajib dipilih semua orang, asalkan sesuai tujuan dan kemampuan sehingga bisa dilakukan rutin. Namun, bila targetnya otot yang lebih tegas, olahraga permainan saja belum tentu cukup dan latihan kekuatan tetap diperlukan.
Tantangan berikutnya adalah konsisten. Menurut Nando, rasa malas dan lelah sering datang dari diri sendiri, dan latihan akan terasa lebih ringan jika sudah menjadi rutinitas. “Yang paling susah itu melawan diri sendiri,” kata sosok yang juga HYROX Performance Coach tersebut.
1 2




