Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Dua pemeran utama film Putri Jangan Gentayangan Lagi, Kinaryosih dan Kawai Labiba, membagikan pengalaman serta tantangan yang mereka hadapi selama proses produksi film garapan MPV Pictures.

Kinaryosih mengaku sempat merasa gugup ketika pertama kali menerima tawaran memerankan Mak Eli. Selain harus mempelajari logat Betawi-Bekasi, ia juga dituntut mempertahankan emosi karakter yang hampir selalu berada dalam kondisi tegang.

"Pertama kali aku menerima karakter ini, rasanya sangat deg-degan. Karena memang ada aksen atau logat Bekasi, sebenarnya Betawi-Bekasi. Selain itu, karakternya memang harus 'spaneng' terus-menerus," ujar Kinaryosih saat ditemui di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (30/10/2026).

Rasa gugupnya semakin besar ketika bertemu langsung dengan sosok Mak Eli yang kisahnya menjadi inspirasi film tersebut. Ia pun banyak berdiskusi dengan sutradara Rizal untuk menemukan pendekatan yang tepat.

| Baca Juga: Kawai Labiba, Denisha Wahyuni dan Fadi Alaydrus Bagikan Fakta Film 'Putri Jangan Gentayangan Lagi'

Menurut Kinaryosih, tantangan terbesarnya adalah menjaga intensitas emosi Mak Eli yang terus meningkat sepanjang cerita.

"Aku sendiri saat melihat hasilnya tadi merasa, 'Aduh, pegal banget, kepala sampai pusing karena marah-marah terus.' Tapi memang harus seperti itu tuntutannya, karena konfliknya sangat berat," tuturnya.

7 Fase Putri dan Belatung Sungguhan

Tantangan tak kalah ekstrem dialami oleh Kawai Labiba yang memerankan sang tokoh sentral, Putri. Kawai harus memainkan tujuh fase berbeda—dua fase saat Putri masih hidup dan lima fase setelah menjadi arwah gentayangan.

Tak hanya kontinuitas emosi yang berat, tantangan teknis yang dihadapinya pun terbilang mengerikan. Mulai dari riasan efek khusus di sekujur tubuh, beraksi menggunakan sling (tali pengaman), hingga menahan darah buatan di mulut.

| Baca Juga: Film ‘Gak Ada Matinya’ Disenggol karena Masalah Pribadi, Oki Rengga Semprot Chef Arnold

"Apalagi proses make-up-nya sangat total dari ujung ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Belum lagi tuntutan teknis seperti adegan menggunakan sling, harus menahan darah buatan di dalam mulut sebelum adegan dimulai, memakai lensa kontak khusus," jelas Kawai.

Tak hanya itu, Kawai juga syuting bahkan dengan menggunakan belatung hidup tanpa bantuan efek CGI.

"Itu belatung beneran! Iya, asli belatung beneran," tegas Kawai

Kedekatan Karakter Hingga Ciptakan Imajinasi

Kawai mengaku memiliki kedekatan emosional dengan karakter tersebut karena sama-sama memahami tanggung jawab sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga.

| Baca Juga: Pengakuan Cassandra Lee & Ryuken Lie: Mulai Cinlok Sampai Resmi Nikah Berawal dari Film 'Orang Sebelah'

"Sebagai sesama anak perempuan pertama, rasa tanggung jawab ingin meringankan beban keluarga itu juga sangat relate dan besar di dalam diriku. Jadi ketika memerankan Putri, dasar emosi yang aku bangun berangkat dari pemahaman dan empatiku sebagai anak perempuan pertama," ungkap Kawai.

Ia kemudian mengembangkan karakter Putri melalui imajinasi, terutama untuk menggambarkan seorang perempuan berusia 20 tahun yang sudah memiliki anak, meskipun secara usia dan jiwa masih tergolong muda.

Sutradara Minta Sosok Hantu Putri Tetap Humanis

Tantangan lainnya adalah menggambarkan perubahan Putri setelah menjadi hantu. Awalnya, Kawai mengira karakter tersebut harus sepenuhnya melepaskan sisi kemanusiaannya dan hanya menampilkan emosi mentah.

Namun, setelah berdiskusi dengan sutrasara Rizal Mantovai, ia justru mendapat arahan agar Putri tetap memiliki sisi manusiawi.

"Mas Rizal menjawab, 'Lho, justru harus human. Karena sosok Putri ini sebelumnya adalah manusia biasa yang memiliki cerita, emosi, dan latar belakang keluarga. Jangan sampai kehilangan sisi kemanusiaannya,'" tutup Kawai.

Putri, Jangan Gentayangan Lagi tayang di bioskop mulai 5 November 2026 yang mengangkat kisah nyata almarhumah Amanda R Saputri yang sempat viral melalui siniar Lentera Malam di YouTube.

Cerita film ini berpusat pada kehidupan seorang ibu yang harus menghadapi tragedi keluarga. Kematian putri sulungnya justru menjadi awal dari teror arwah gentayangan yang meresahkan warga kampung.

Kehidupan Mak Eli, yang diperankan Kinaryosih, tidak pernah mudah. Sebagai pengemudi ojek online, ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya.

| Baca Juga: Trio GJLS Ikut Diklat Damkar, Adegan Bersama Ular Paling Bikin Takut

Situasi keluarga semakin sulit ketika Putri (Kawai Labiba), anak sulung Mak Eli, kembali ke rumah bersama seorang bayi. Kepulangannya membawa kabar buruk karena Putri ternyata menderita sakit parah.

Kondisi Putri terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal dalam keadaan mengenaskan. Peristiwa tragis tersebut mengubah kehidupan keluarga Mak Eli dan warga di lingkungan tempat tinggal mereka.

Namun, kematian Putri tidak mengakhiri persoalan. Arwahnya justru gentayangan dan mulai menghantui warga kampung, memicu keresahan di tengah masyarakat. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: