Sering Nyeri dan Mudah Cemas di Usia 40-an? Bisa Jadi Tanda Perimenopause
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Menstruasi yang makin tidak teratur, tidur terganggu, emosi mudah berubah, hingga tubuh yang kerap terasa nyeri bisa membingungkan perempuan, terutama bila sebelumnya tak pernah mengalaminya.
Sebagian menganggapnya akibat kelelahan, tekanan kerja, atau penuaan. Padahal, kondisi itu bisa menjadi bagian dari perimenopause, masa transisi sebelum menopause.
Pada fase ini, fungsi ovarium mulai menurun sehingga produksi estrogen dan progesteron berfluktuasi. Dampaknya tak hanya pada siklus haid, tetapi juga tidur, suasana hati, konsentrasi, hingga nyeri di sejumlah bagian tubuh.
Persoalan ini menjadi sorotan pada World Menopause Day 18 Oktober 2026, ketika International Menopause Society mengangkat tema “Chronic Pain at Midlife” untuk menyoroti nyeri berkepanjangan pada perempuan usia paruh baya.
| Baca Juga: Osteoporosis Mengintai Tanpa Gejala, Kesehatan Tulang Perlu Dijaga Sejak Muda
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Pondok Indah, Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp.O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc., menjelaskan bahwa perimenopause umumnya dimulai di usia 40-an, bahkan bisa sejak pertengahan 30-an, dengan durasi yang berbeda pada tiap perempuan.
Waktunya berkaitan dengan cadangan sel telur yang sudah terbentuk sejak dalam kandungan dan terus berkurang seiring usia. Seorang perempuan dinyatakan menopause setelah 12 bulan berturut-turut tidak menstruasi, dan setelahnya memasuki masa pascamenopause.
Selain siklus yang berubah, gejala yang muncul beragam. Mulai dari hot flashes, keringat malam yang mengganggu tidur, kulit kering, rambut menipis, hingga nyeri sendi, otot, punggung, atau kepala. Perempuan juga dapat mengalami mood swing, mudah cemas, dan brain fog atau sulit berkonsentrasi.
Menurut Dr. Kanadi, hal itu dapat berkaitan dengan fluktuasi hormon, tetapi tidak selalu karena perimenopause. “Kondisi ini tidak hanya terjadi menjelang menopause, tetapi juga bisa berkaitan dengan penggunaan obat-obatan tertentu yang menyebabkan penurunan estrogen,” ujarnya di Jakarta, Kamis (29/10). Dukungan keluarga dan lingkungan pun penting, dan bila gangguan makin berat, pemeriksaan ke tenaga kesehatan diperlukan.
| Baca Juga: Sering Dianggap Nyeri Haid Biasa, Kenali Gejala Endometriosis yang Bisa Ganggu Kesuburan
Hal serupa berlaku pada nyeri berkepanjangan. Perubahan hormon memang dapat memengaruhi peradangan dan cara tubuh merasakan nyeri, tetapi tidak semua rasa sakit di usia paruh baya disebabkan menopause.
Nyeri yang makin berat, berulang, atau membatasi aktivitas sebaiknya diperiksa, sebab menganggapnya bagian dari penuaan berisiko membuat penanganan terlambat.
Penurunan estrogen juga memengaruhi organ intim. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan uroginekologi, Dr. Astrid Yunita, Sp.O.G, Subsp. Urogin.Re., menyebut jaringan vagina dapat menipis, kering, dan kehilangan elastisitas.
“Kondisi ini dapat menimbulkan rasa gatal, sensasi terbakar, hingga nyeri atau ketidaknyamanan saat berhubungan seksual,” katanya.
| Baca Juga: Memulai Olahraga di Usia ’Senja’? Tak Masalah, ikuti Saran Aktor Fernando Surya
Keluhan ini termasuk dalam genitourinary syndrome of menopause (GSM). Selain itu, otot dasar panggul bisa melemah, dipengaruhi pula oleh kehamilan, persalinan, genetik, operasi, batuk kronis, atau kebiasaan mengangkat beban berat. Akibatnya, perempuan dapat mengalami inkontinensia urine hingga prolaps organ panggul.
Penanganannya bergantung pada tingkat keparahan, mulai dari senam Kegel, pelembap vagina, hingga terapi estrogen lokal. Astrid juga mengingatkan bahwa gangguan berkemih tidak selalu berarti infeksi saluran kemih, sehingga keluhan berulang perlu diperiksa.
Tulang pun tak luput. Saat estrogen menurun, penguraian tulang dapat lebih cepat daripada pembentukannya sehingga risiko osteoporosis meningkat. Namun, Dr. Kanadi menegaskan menopause hanya salah satu faktor.
“Yang terpenting adalah memastikan kadar kalsium di dalam tubuh tetap terjaga,” jelasnya. Aktivitas fisik yang sesuai juga penting, dan perempuan berisiko dapat berkonsultasi soal pemeriksaan kepadatan tulang.
| Baca Juga: Tak Semua Benjolan adalah Kanker, Namun Jangan Abaikan Perubahan pada Payudara
Perimenopause memang tak bisa dihentikan, dan belum ada teknologi yang terbukti menundanya secara definitif. Namun, keluhannya dapat dikelola lewat pola makan seimbang, olahraga teratur, tidur cukup, dan pengelolaan stres. Pada kondisi tertentu, terapi hormon bisa dipertimbangkan, tetapi dokter perlu menilai kondisi kesehatan, riwayat penyakit, serta manfaat dan risikonya pada tiap perempuan.
Pada akhirnya, menopause adalah fase kehidupan, bukan alasan mengabaikan rasa sakit, gangguan tidur, atau perubahan kesehatan yang sebenarnya dapat diperiksa dan ditangani. (*)







