Awalnya Cuma Ikut Tren, Mengapa Anak Muda Kini Ketagihan HYROX?
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Banyak anak muda yang kini ketagihan HYROX. Awalnya mungkin mereka hanya ingin mengikuti tren. Melihat teman-teman berlari, mengangkat beban, kemudian mengunggah foto setelah menyelesaikan kompetisi di media sosial.
Sebagian anak muda akhirnya tertarik mencoba hal serupa. Namun, sebagian lagi justru menjadi awal ari tantangan baru. Yaitu kembali berlatih dan berusaha mencatat waktu yang lebih baik.
Fenomena itu turut terlihat dalam meningkatnya minat terhadap HYROX, kompetisi kebugaran yang menggabungkan lari dengan latihan kekuatan.
| Baca Juga: Begini Penjelasan HYROX soal Kontroversi Atlet BAB di Celana saat Bertanding
Menurut Hyrox Perfomance Coach Fernando Surya, ketertarikan anak muda terhadap olahraga ini bisa berawal dari fear of missing out (FOMO), yakni perasaan takut tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang ramai diikuti orang lain.
”Awalnya mungkin karena FOMO, ikut-ikutan melihat di media sosial. Setelah mencoba dan berhasil finish, muncul keinginan untuk ikut lagi supaya waktunya lebih baik. Akhirnya, orang tersebut bisa menjadi lebih fokus berlatih,” ujar pria yang akrab disapa Nando itu.
Bagi Nando, dorongan mengikuti tren tidak selalu berdampak buruk. Selama berujung pada kebiasaan bergerak dan keinginan meningkatkan kemampuan, rasa penasaran dapat menjadi pintu masuk untuk menjalani gaya hidup yang lebih aktif.
| Baca Juga: Cetak Personal Best di HYROX Bangkok 2026, Luna Maya dan Marianne Rumantir Siap Taklukkan Event Berikutnya
Menggabungkan Lari dan Latihan Kekuatan
Salah satu hal yang membedakan HYROX dengan olahraga kebugaran lainnya adalah format kompetisinya yang menggabungkan daya tahan dan kekuatan dalam satu rangkaian.
Peserta tidak cukup hanya memiliki kemampuan berlari, tetapi juga harus menyelesaikan sejumlah latihan fisik dengan ketentuan tertentu.
Dalam format standar HYROX, peserta berlari sejauh satu kilometer, kemudian menyelesaikan satu stasiun latihan. Rangkaian tersebut diulang hingga peserta menempuh total delapan kilometer lari dan menyelesaikan delapan stasiun.
| Baca Juga: Memulai Olahraga di Usia ’Senja’? Tak Masalah, ikuti Saran Aktor Fernando Surya
Stasiun latihan itu terdiri dari ski erg, sled push, sled pull, burpee broad jumps, rowing, farmer’s carry, sandbag lunges, dan wall balls. Setiap stasiun memiliki ketentuan jarak, jumlah repetisi, atau beban yang disesuaikan dengan kategori peserta.

Perpaduan tersebut menuntut peserta menjaga daya tahan selama berlari sekaligus mempertahankan kekuatan untuk menyelesaikan setiap tantangan. Keduanya harus dikelola sepanjang perlombaan, bukan hanya ketika tubuh masih dalam kondisi prima.
Menurut Nando, format ini juga menarik karena mempertemukan dua kelompok yang sebelumnya mungkin memiliki fokus latihan berbeda. Mereka yang terbiasa angkat beban terdorong meningkatkan kemampuan berlari, sedangkan pelari perlu melatih kekuatan.
| Baca Juga: Trauma Kepergian Adjie Massaid, Aaliyah Takut Thariq Halilintar Olahraga Malam
Formatnya Terstruktur, tetapi Tetap Perlu Latihan
Meski formatnya dapat dipelajari, Nando mengingatkan untuk tetap persiapan. Mengetahui urutan tantangan tidak otomatis membuat seseorang mampu menyelesaikannya dengan baik, terutama jika belum terbiasa mengombinasikan lari dan latihan kekuatan.
Teknik gerakan, daya tahan, kekuatan, serta kemampuan mengatur tenaga perlu dibangun sebelum mengikuti kompetisi.
Tanpa persiapan, peserta mungkin tetap dapat menyelesaikan perlombaan, tetapi berisiko menghabiskan waktu terlalu lama pada stasiun tertentu atau kesulitan mempertahankan performa hingga akhir.(*)







