Gaya Hidup dan Ketidakseimbangan Hormon di Balik Meningkatnya Kasus Kanker Endometrium
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Kanker endometrium adalah kanker yang berkembang pada lapisan terdalam rahim atau endometrium. Penyakit ini umumnya menyerang perempuan yang telah menopause, tetapi bukan berarti perempuan usia produktif terbebas dari risikonya.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus pada kelompok usia yang lebih muda juga mulai meningkat, seiring bertambahnya faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup dan gangguan metabolik.
Hingga kini, penyebab pasti kanker endometrium belum diketahui. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini sangat berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, terutama ketika kadar estrogen lebih tinggi dibandingkan progesteron dalam waktu yang lama.
Kondisi tersebut membuat lapisan rahim terus menebal sehingga meningkatkan risiko terjadinya perubahan sel menjadi ganas.
| Baca Juga: Perdarahan Tidak Teratur Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Kanker Endometrium
Risiko tersebut akan semakin besar pada perempuan yang mengalami kelebihan berat badan, menjalani gaya hidup minim aktivitas fisik, memiliki diabetes melitus, hipertensi, hipertrigliseridemia, infertilitas, atau mengonsumsi obat-obatan yang mengandung atau merangsang hormon estrogen.
Faktor keturunan juga berperan, terutama pada perempuan yang memiliki Lynch syndrome atau mutasi gen BRCA.
Menurut dr. Renny Anggia Julianti, Sp.OG, Subsp. Onk, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, perubahan pola hidup masyarakat saat ini ikut memengaruhi meningkatnya angka kejadian kanker endometrium.
“Sekarang mulai banyak pasien diabetes yang bahkan tidak memiliki riwayat keluarga. Pola makan tinggi gula, tinggi tepung, tetapi rendah serat diduga ikut berperan. Karena itu, menjaga pola makan dan memperbanyak konsumsi serat menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko,” kata dr. Renny.
| Baca Juga: Menolak Tua, Intip Gaya Nenek Hayati yang Viral Karena Penampilan Bak ABG
Peluang Sembuh Baik Bila Ditemukan Lebih Awal
Pilihan terapi akan disesuaikan dengan stadium penyakit dan kondisi kesehatan pasien. Operasi masih menjadi terapi utama dengan mengangkat rahim beserta jaringan yang diperlukan untuk membersihkan sel kanker. Di sisi lain, pada stadium awal, tindakan ini bahkan sering kali sudah cukup tanpa memerlukan terapi tambahan.
Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan radioterapi untuk mencegah kekambuhan atau sebagai terapi utama bila pasien tidak dapat menjalani operasi. Kemoterapi diberikan apabila terdapat risiko penyebaran kanker ke organ lain, sedangkan terapi hormonal dapat dipilih pada pasien dengan kriteria khusus, misalnya masih berusia muda, belum memiliki penyebaran ke otot rahim, dan masih ingin mempertahankan kesuburan.
Meski operasi merupakan terapi utama, bukan berarti kanker tidak mungkin muncul kembali. “Pada kanker tidak ada terapi yang bisa menjamin seratus persen tidak kambuh. Bila kekambuhan terjadi, penanganannya akan disesuaikan dengan lokasi, ukuran, dan terapi yang pernah dijalani sebelumnya,” kata dr. Renny.
Benarkah Pil KB Bisa Mencegah Kanker?
Di tengah masyarakat masih berkembang anggapan bahwa penggunaan pil kontrasepsi hormonal dapat memicu kanker. Di sisi lain, sejumlah penelitian justru menunjukkan pil KB kombinasi dapat menurunkan risiko kanker endometrium.
| Baca Juga: Jarang Hadir di Acara Penting Aaliyah Massaid, Angelina Sondakh Tepis Isu Renggang
Menurut dr. Renny, kedua informasi tersebut tidak saling bertentangan. “Setiap organ memiliki reseptor hormon yang berbeda. Pada endometrium, progesteron membantu menyeimbangkan efek estrogen sehingga bersifat protektif.
Namun pada jaringan payudara, respons terhadap hormon berbeda sehingga risikonya pun tidak sama,” jelasnya. Karena itu, pemilihan kontrasepsi hormonal sebaiknya selalu melalui konsultasi dengan dokter.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa endometriosis akan berkembang menjadi kanker endometrium. Menurutnya, kedua kondisi tersebut berbeda — pada sebagian kecil kasus, endometriosis yang membentuk kista di ovarium memang dapat berkembang menjadi kanker ovarium, tetapi bukan kanker endometrium.
Tidak Pernah Terlambat untuk Hidup Sehat
Meski demikian, dr. Renny menegaskan bahwa memperbaiki gaya hidup tetap memberikan manfaat, kapan pun perubahan itu dimulai.
“Tidak pernah terlambat untuk mulai hidup sehat. Pola makan yang lebih baik, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, dan mengendalikan diabetes maupun hipertensi dapat membantu menurunkan risiko karena hormon sangat dipengaruhi oleh gaya hidup,” katanya. (*)







