Perdarahan Tidak Teratur Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Kanker Endometrium
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleSementara pada perempuan yang sudah menopause, setiap perdarahan, sekecil apa pun, perlu dianggap sebagai tanda bahaya hingga terbukti bukan kanker.
Selain perdarahan, pasien juga dapat mengalami keputihan encer atau bercampur darah, nyeri pada panggul dan perut bagian bawah, nyeri saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil, hingga pembesaran rahim.
“Menopause didefinisikan sebagai tidak haid selama satu tahun penuh. Jadi, bila setelah itu muncul perdarahan kembali, jangan ditunggu. Kondisi tersebut wajib dievaluasi oleh dokter,” tegas dr. Renny.
| Baca Juga: Inul Daratista Kenang Berangkat Manggung Naik Truk, Honor Cuma Puluhan Ribu Rupiah
Diagnosis Ditentukan dari Pemeriksaan Jaringan
Penegakan diagnosis kanker endometrium tidak cukup hanya melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, ataupun hasil USG. Diagnosis pasti baru dapat ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan endometrium yang diambil melalui biopsi.
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan beberapa cara, mulai dari mikrokuret pipelle yang menggunakan selang kecil fleksibel, prosedur kuretase atau dilation and curettage (D&C), hingga histeroskopi yang memungkinkan dokter melihat langsung kondisi rongga rahim sekaligus mengambil jaringan dari area yang dicurigai.
Berbeda dengan kanker serviks, hingga kini belum ada pemeriksaan skrining rutin untuk mendeteksi kanker endometrium pada perempuan tanpa gejala. Pap smear pun tidak ditujukan untuk mendeteksi kanker ini karena hanya berfungsi sebagai skrining kelainan pada leher rahim.
Karena itu, mengenali gejala menjadi langkah paling penting untuk menemukan kanker endometrium sedini mungkin.
“Pesan saya sederhana, bila mengalami perdarahan yang tidak normal, terutama setelah menopause, segera periksakan diri. Jangan menunggu sampai keluhan bertambah berat. Semakin cepat diketahui penyebabnya, semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal,” tandas dr. Renny. (*)







