Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Kasus kanker endometrium di Indonesia terus meningkat. Meski peluang sembuh cukup tinggi bila ditemukan sejak dini, banyak perempuan datang berobat ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut karena gejalanya kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan.

Perdarahan yang muncul setelah seorang perempuan memasuki masa menopause sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah. Sebagian memilih menunggu hingga keluhan mereda dengan sendirinya, sementara yang lain menganggapnya sebagai bagian dari perubahan hormon seiring bertambahnya usia.

Padahal, kondisi tersebut justru merupakan salah satu tanda paling khas dari kanker endometrium, penyakit yang kini semakin banyak ditemukan pada perempuan.

Menurut dr. Renny Anggia Julianti, Sp.OG, Subsp. Onk, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, kanker endometrium merupakan salah satu kanker yang memiliki peluang kesembuhan cukup baik apabila terdiagnosis pada stadium awal.

| Baca Juga: Refleksi Hidup Agnez Mo Sambut Usia 40 Tahun: Aku akan Berjuang Sampai Bebas

“Jangan abaikan perdarahan vagina yang tidak normal, terutama setelah menopause. Semakin dini kanker endometrium ditemukan, semakin besar peluang keberhasilan pengobatannya sehingga kualitas hidup pasien pun dapat tetap terjaga,” ujar dr. Renny saat diskusi tentang Mengenali Gejala Awal Kanker Endometrium dan Pilihan Tata Laksana Terkini yang diadakan RS Pondok Indah Group di Jakarta baru-baru ini.

Secara global, kanker endometrium menyumbang sekitar 2,1 persen dari seluruh kasus kanker, dengan sekitar 420 ribu kasus baru setiap tahun. Angka kematiannya mencapai hampir sepertiga dari seluruh kasus yang terjadi.

Di Indonesia, kanker ini menempati urutan ketiga kanker ginekologi setelah kanker serviks dan kanker ovarium, dengan insiden yang meningkat hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

Gejalanya Sering Dianggap Wajar

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker endometrium adalah gejalanya yang sering diabaikan. Banyak perempuan menganggap perdarahan tidak teratur sebagai gangguan menstruasi biasa atau perubahan hormonal menjelang menopause.

| Baca Juga: Konsumsi Yogurt Jadi Andalan Gaya Hidup Sehat Pevita Pearce

Padahal, perdarahan yang tidak normal merupakan gejala utama kanker endometrium. Pada perempuan yang belum menopause, keluhan dapat berupa menstruasi yang jauh lebih banyak dari biasanya atau munculnya flek di luar siklus haid.

Sementara pada perempuan yang sudah menopause, setiap perdarahan, sekecil apa pun, perlu dianggap sebagai tanda bahaya hingga terbukti bukan kanker.

Selain perdarahan, pasien juga dapat mengalami keputihan encer atau bercampur darah, nyeri pada panggul dan perut bagian bawah, nyeri saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil, hingga pembesaran rahim.

“Menopause didefinisikan sebagai tidak haid selama satu tahun penuh. Jadi, bila setelah itu muncul perdarahan kembali, jangan ditunggu. Kondisi tersebut wajib dievaluasi oleh dokter,” tegas dr. Renny.

| Baca Juga: Inul Daratista Kenang Berangkat Manggung Naik Truk, Honor Cuma Puluhan Ribu Rupiah

Diagnosis Ditentukan dari Pemeriksaan Jaringan

Penegakan diagnosis kanker endometrium tidak cukup hanya melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, ataupun hasil USG. Diagnosis pasti baru dapat ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan endometrium yang diambil melalui biopsi.

Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan beberapa cara, mulai dari mikrokuret pipelle yang menggunakan selang kecil fleksibel, prosedur kuretase atau dilation and curettage (D&C), hingga histeroskopi yang memungkinkan dokter melihat langsung kondisi rongga rahim sekaligus mengambil jaringan dari area yang dicurigai.

Berbeda dengan kanker serviks, hingga kini belum ada pemeriksaan skrining rutin untuk mendeteksi kanker endometrium pada perempuan tanpa gejala. Pap smear pun tidak ditujukan untuk mendeteksi kanker ini karena hanya berfungsi sebagai skrining kelainan pada leher rahim.

Karena itu, mengenali gejala menjadi langkah paling penting untuk menemukan kanker endometrium sedini mungkin.

“Pesan saya sederhana, bila mengalami perdarahan yang tidak normal, terutama setelah menopause, segera periksakan diri. Jangan menunggu sampai keluhan bertambah berat. Semakin cepat diketahui penyebabnya, semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal,” tandas dr. Renny. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: