Menjadi anak dari salah satu aktor laga terbaik Indonesia diakui Faris memberikan tekanan mental yang cukup besar. Ia sempat merasa terbebani dengan ekspektasi publik yang selalu membandingkannya dengan sang ayah.

"Berat, berat banget. Cuma kayak mungkin aku dulu tuh pernah berpikir kayak, 'Ah, aku kayaknya enggak bisa menggapai apa yang Ayah capai.' Cuma kayak sekarang tuh aku mikirnya, kenapa aku harus mencapai apa yang Ayah punya? Kan aku juga punya pribadi sendiri. Jadi aku capai apa yang aku punya saja," tegas Faris.

Faris pun menyadari banyaknya komentar yang menyebutnya sebagai penerus sang ayah, namun ia memilih untuk tetap rendah hati.

"Banyak karena mungkin kayak, 'Wah, ini pasti calon pengganti Kang Cecep nih.' Aku awalnya ngerasa aduh berat juga ya memikul beban seperti itu. Tapi karena akunya legowo, ya jalani saja dulu. Karena aku di sini sebagai Faris Fadjar, bukan 'anaknya Kang Cecep'," terangnya.

Optimisme Terhadap Film Laga

Faris menyambut baik langkah Oasis Pictures dan Charles Gozali yang berani memasukkan unsur laga ke dalam genre horor dan komedi. Ia merasa industri film Indonesia perlu lebih berani dalam mengeksplorasi koreografi laga.

| Baca Juga: Tantangan Baru Unang Bagito dan Bukie Mansyur di Film MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula

"Aku sangat senang karena mungkin dari dulu aku merasa kayak perfilman di Indonesia belum bisa memaksimalkan action sepenuhnya. Om Charles bisa memasukkan action di lingkungan horor, komedi, atau drama. Memberikan konsep yang baru yaitu horror-action-comedy, itu menjadi sesuatu yang sangat menarik," paparnya.

Bintang film Pengepungan Bukit Duri ini membagikan status pendidikannya saat ini. Meski sibuk di dunia film, ia masih aktif menempuh studi di Bandung.

"Sekarang aku kuliah di Unpas, Universitas Pasundan di Bandung, Fakultas Ilmu Seni dan Sastra. Sekarang semester 7, sudah mau lulus. Tinggal di Bandung, kalau ke Jakarta ya bolak-balik saja," tutupnya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: