VIVIA MEDIA — Kelelahan akibat kanker (cancer fatigue) dialami 80–100 persen pasien kanker. Bukan sekadar lelah biasa, kondisi ini adalah rasa lelah fisik, emosional, dan kognitif yang terus-menerus, bahkan tidak hilang meski sudah istirahat

Hal itu dijelaskan oleh Dr. Tanujaa Rajasekaran dari Parkway Cancer Centre.

Penyebabnya kompleks. Karena tumor yang menguras energi tubuh, peradangan akibat respons imun memicu gejala mirip flu berat, hingga efek samping kemoterapi yang menurunkan sel darah merah sehingga oksigen ke otot dan organ berkurang.

Stres dan suasana hati yang menurun akibat pengobatan turut memperberat kelelahan ini. Karena itu, dukungan dari lingkungan sekitar, mulai kolega, teman, dan keluarga sangat berarti bagi pasien kanker

| Baca Juga: Untuk Penderita Kanker, Ini Tips Agar Tetap Produktif Saat Kembali Bekerja

Bagi Rekan Kerja

Hal terpenting yang dilakukan para rekan kerja adalah menjaga rasa normal. Wa Wa Aung, konselor PCC Gleneagles Hospital, mengatakan kebanyakan pasien memilih merahasiakan diagnosis agar tidak dikasihani atau dianggap tidak lagi mampu bekerja.

"(Upaya rekan kerja) melibatkan mereka seperti biasa dalam interaksi kerja sehari-hari justru membantu meringankan rasa canggung dan menegaskan kembali identitas profesional mereka," kata Wa Aung.

Jika rekan kerja sudah terbuka soal kondisinya, Rebecca Oh dari Strong Olive menyarankan merespons dengan empati, bukan asumsi. Misalnya menanyakan kabar secara rutin tanpa berlebihan, menawarkan bantuan praktis di masa sibuk, atau memaklumi kebutuhan fleksibilitas untuk jadwal berobat.

"Hindari komentar seperti “tapi kamu kelihatan baik-baik saja” atau “bukannya sudah sembuh?” karena bisa terkesan meremehkan perjuangan mereka," jelasnya.

| Baca Juga: Penurunan Massa Otot Jangan Dianggap Sepele, Sarcopenia Bisa Ganggu Metabolisme

Beverley Yeo dari 365 Cancer Prevention Society (CPS) mengingatkan, tawaran bantuan yang diberikan sebaiknya spesifik. Kalimat umum seperti “kabari saja kalau butuh apa-apa” sering tidak direspons karena banyak pasien enggan meminta bantuan secara aktif.

"Lebih baik menawarkan hal konkret, seperti mencatat notula rapat atau mengambil alih tugas yang membutuhkan perjalanan jauh," kata Yeo.

Bila rekan kerja belum terbuka tapi terlihat ada yang berubah, Rebecca Oh menyarankan pendekatan halus. Misalnya melalui kalimat "Aku perhatikan belakangan ini kamu terlihat berbeda. Kalau ada yang bisa aku bantu, kabari ya”

Hal itu dilakukan tanpa perlu menyelidiki lebih jauh. Tujuannya menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang merasa aman untuk meminta dukungan.

| Baca Juga: Mengenal Jahira, Varietas Jahe Merah yang Bisa Jadi 'Ginsengnya' Indonesia

Di sisi lain, Hong Dou dari 365CPS mengingatkan agar tidak berlebihan melindungi rekan tersebut. "Tetap perlakukan mereka sebagai kolega, bukan hanya sebagai pasien, dan libatkan dalam diskusi maupun proyek seperti biasa," jelasnya.

Bagi Keluarga dan Teman

Bantuan paling praktis bagi keluarga dan teman adalah terkait hal-hal sehari-hari. Misalnya, mengurus keperluan rumah tangga, membantu jemput anak, menemani ke jadwal kontrol dokter, atau menyiapkan makanan saat kelelahan membuat aktivitas harian terasa berat.

Wa Aung menambahkan, keluarga bisa berperan sebagai “mata dan telinga” tambahan saat berkomunikasi dengan tim medis, membantu mengatur jadwal dan obat-obatan.

Dukungan emosional sama pentingnya. Terkadang yang dibutuhkan pasien hanyalah didengarkan, bukan nasihat. Hong Dou mengingatkan, niat baik memberi saran bisa terasa seperti meremehkan perjuangan mereka.

| Baca Juga: Yuk Kenali 3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

"Hindari kalimat seperti 'tetap semangat ya', 'untung bukan stadium akhir', atau 'jangan dipikirkan', karena bisa terkesan mengabaikan perasaan pasien. Sebaliknya, akui situasi mereka sambil tetap memberi dukungan," ujarnya.

Konsistensi Kehadiran

Pada akhirnya, dukungan terbaik bukan soal seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan konsistensi kehadiran dan pendampingan para pasien. Yakni tetap melibatkan mereka dalam percakapan dan rencana sehari-hari, sambil peka terhadap batas energi yang mereka miliki saat itu. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: