VIVIA MEDIA – Sebagian besar orang memilih langsung minum obat untuk menghentikan diare. Namun, kebiasaan tersebut justru bisa berbahaya karena memicu komplikasi serius.

Dokter Tirta menjelaskan, diare adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan bakteri atau zat berbahaya dari saluran pencernaan.

Karena itu, menghentikan diare secara paksa dengan obat justru berisiko membuat bakteri tetap berada di dalam usus.

"Kalau diare jangan sekalipun kalian minum obat yang langsung menghentikan diare. Mencret itu isinya bakteri semua," ujar dokter Tirta, dikutip dari kanal Youtube Tirta PengPengPeng pada Kamis (9/7/2026).

| Baca Juga: Jangan Bilang 'Tetap Semangat Ya': Ini Cara Dukung Rekan Kerja atau Keluarga yang Sedang Lawan Kanker

Menurut dokter Tirta, saat seseorang mengalami diare, usus sedang melakukan mekanisme pertahanan dengan mengeluarkan kotoran dan bakteri melalui feses.

Jika proses tersebut dihentikan dengan obat tanpa indikasi yang tepat, bakteri dapat tertahan di dalam usus.

Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi meningkatkan risiko infeksi usus yang lebih berat.

Dalam kasus tertentu, komplikasi serius seperti ileus dapat terjadi.

| Baca Juga: Untuk Penderita Kanker, Ini Tips Agar Tetap Produktif Saat Kembali Bekerja

“Ini kotorannya di dalam semua sama bakterinya, otomatis gasnya usus menjadi tinggi, yang terjadi bisa potensi infeksi ususnya semakin besar, bolong, jadinya ileus. Ileus itu artinya ususnya pecah, kotorannya di dalam semua,” jelas Tirta.

Lebih lanjut, dokter Tirta juga menjelaskan bahwa diare dibagi menjadi dua jenis, yakni diare akut dan diare kronis.

Diare akut umumnya berlangsung kurang dari dua minggu dengan frekuensi buang air besar lebih dari lima kali sehari disertai feses yang sangat cair.

Sementara itu, diare kronis berlangsung lebih dari dua minggu sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

| Baca Juga: Tidak Cukup Jalan Kaki, Ini Dua Kunci Mencegah Sarcopenia

Untuk penanganan awal, dia menyarankan penderita diare segera mengganti cairan tubuh yang hilang guna mencegah dehidrasi.

“Kasih oralit atau cairan pengganti tubuh. Bisa oralit, minuman ion, air kelapa. Sekali diare, langsung minumin. Bisa berikan obat-obatan imodium untuk mengurangi peristaltik,” tuturnya.

Namun apabila diarenya disertai demam tinggi, tinja berdarah, nyeri perut hebat, tanda-tanda dehidrasi, penderita sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: