VIVIA MEDIA — Stereotipe bahwa pola hidup sehat selalu berkaitan dengan biaya tinggi dan konsumsi bahan makanan impor kini mulai dipatahkan. Penggunaan bahan pangan lokal yang diolah dengan tepat terbukti memiliki kandungan nutrisi tinggi yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh.

Dennis Guido, seorang konten kreator sekaligus ahli teknologi pangan yang dikenal melalui akun @Naktekpang, mengungkapkan bahwa hambatan terbesar masyarakat untuk mulai makan sehat adalah adanya stigma bahwa hal tersebut sulit dan mahal.

Padahal, menurut Dennis, Indonesia memiliki teknik pengolahan tradisional yang sangat sehat.

"Contohnya, teknik mengolah makanan dengan cara dipepes hanya melibatkan bumbu dan proses pengukusan atau pembakaran. Ini adalah salah satu cara makan paling sehat karena sangat minim penggunaan minyak," ujar Dennis dalam diskusi TikTok Pola Makan Sehat dari Kekayaan Pangan Lokal Indonesia di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2026).

| Baca Juga: Tips Mengelola Rasa Lapar saat Menjalani Diet Defisit Kalori

Pentingnya Konten yang Mengedukasi

Sebagai kreator yang aktif sejak tahun 2020, Dennis mengamati perubahan tren makanan yang sangat dinamis di media sosial, mulai dari fenomena Dalgona Coffee hingga tren terbaru seperti olahan ubi yang dicampur yogurt menjadi cheesecake.

Dengan latar belakang teknologi pangan, Dennis memilih pendekatan edukatif dengan membongkar isi dari proses pengolahan makanan agar penonton lebih sadar akan apa yang mereka konsumsi.

Salah satu kontennya yang viral pada tahun 2022 menunjukkan proses pembuatan mayones mandiri. Melalui konten tersebut, masyarakat terkejut saat mengetahui bahwa 80 persen komposisi mayones adalah lemak.

"Dari situ, mereka jadi lebih sadar dan bisa 'Makan dengan Makna'. Saya juga membuat konten edukasi lain seperti pembuatan sosis sendiri untuk memperlihatkan realitas bahan pangan," tambahnya.

| Baca Juga: Dokter Tirta Peringatkan: Jangan Asal Minum Obat Diare, Usus Bisa Alami Komplikasi Serius

Dennis juga membagikan pengalamannya saat mengikuti konferensi pangan internasional di Stockholm, Swedia, tahun lalu. Konferensi tersebut mempertemukan pengusaha, kreator, ilmuwan, dan regulator global yang memiliki keresahan serupa: bagaimana menerjemahkan isu pangan ilmiah yang teknis menjadi komunikasi yang runtut, valid, namun tetap menarik bagi khalayak umum.

Kekayaan Pangan Lokal Daerah

Dalam upaya mematahkan stigma mahal, Dennis aktif memperkenalkan kekayaan pangan lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Saat berkunjung ke Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya, ia mempromosikan sumber protein hewani dari ikan puyung dan keong sawah.

Uniknya, masyarakat setempat bahkan menggunakan kantong semar sebagai kemasan makanan alami.

"Banyak netizen, bahkan orang asli daerah tersebut, baru menyadari bahwa wilayah mereka memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Di daerah, makanan bergizi sering kali bisa diperoleh secara gratis karena diproduksi sendiri," ujar Dennis.

| Baca Juga: Sering Konsumsi Minuman Berenergi? Kenali Risiko bagi Kesehatan Gigi dan Mulut

"Jadi di sini, peran kreator adalah mengemas edukasi ini agar mudah dicerna, baik dari sisi nutrisi, hiburan, maupun potensi bisnis," imbuh Dennis.

Edukasi Melalui 'Makan dengan Makna'

Minat masyarakat yang tinggi terhadap konten makanan diakui oleh Noudhy Valdryno, Head of Public Policy TikTok Indonesia. Ia menjelaskan bahwa TikTok kini meluncurkan inisiatif 'Makan dengan Makna' yang merupakan implementasi lokal dari kampanye global 'Together With Ingredients'.

Program ini sebelumnya telah diperkenalkan di Brasil pada tahun lalu.

"Indonesia dipilih karena memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam, bahan pangan lokal melimpah, dan komunitas kreator yang sangat kreatif. Kami ingin menginspirasi kebiasaan makan sehat melalui konten yang relevan dan edukatif," jelas Noudhy.

TikTok berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memperkuat literasi gizi sebagai pelengkap program nasional seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan kampanye 'Isi Piringku'.

| Baca Juga: Mengenal Jahira, Varietas Jahe Merah yang Bisa Jadi 'Ginsengnya' Indonesia

Selain itu, kolaborasi juga dijalin dengan mitra seperti Food Bank of Indonesia untuk memperluas jangkauan edukasi.

Dari sisi regulator kesehatan, dr. Niken Wastu Palupi, M.KM, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes RI, menegaskan bahwa tantangan gizi di Indonesia saat ini masih berfokus pada penanganan stunting dan obesitas. Masalah ini memerlukan saluran komunikasi yang efektif untuk menjangkau masyarakat luas.

Menurut dr. Niken, pola makan sehat bukan hanya soal seberapa sering seseorang makan, melainkan kecukupan dan keseimbangan kualitas nutrisi. Melalui kampanye 'Isi Piringku', pemerintah mendorong masyarakat untuk memahami porsi ideal antara karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan dalam satu kali makan.

"Bantuan dari para kreator digital sangat diperlukan untuk menerjemahkan pedoman medis yang kaku menjadi sebuah gaya hidup atau lifestyle yang menarik dan mudah diikuti oleh masyarakat," pungkas dr. Niken. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: