Tak Semua Makanan Fermentasi Menyehatkan, Ini Tips Memilihnya
VIVIA MEDIA — Tren memperhatikan kesehatan usus semakin marak belakangan ini. Fenomena "fibermaxxing" atau konsumsi serat besar-besaran menjadi gaya hidup baru, sementara kasus kanker kolorektal pada usia muda justru meningkat. Di saat yang sama, terapi mikrobioma usus untuk kebutuhan personal juga kian digemari.
Di tengah tren tersebut, satu cara pengawetan makanan yang telah menjadi bagian dari berbagai budaya di dunia selama ribuan tahun kembali mendapat sorotan: fermentasi. Bahkan, pedoman gizi terbaru pemerintah Amerika Serikat secara khusus mendorong warganya untuk lebih banyak mengonsumsi makanan fermentasi.
Warisan Kuliner yang Ternyata Menyehatkan
Makanan fermentasi bukan hal baru. Sejak manusia belum mengenal lemari pendingin, fermentasi sudah menjadi cara utama mengawetkan makanan agar tidak cepat busuk.
Berbagai budaya di dunia memiliki makanan fermentasi khasnya masing-masing, mulai dari yogurt, kimchi, acar kubis (sauerkraut), hingga idli dan dosa dari India Selatan. Indonesia sendiri kaya akan makanan fermentasi seperti tempe dan oncom.
| Baca Juga: Konsultasi Genetik jadi Cara Deteksi Risiko Kanker Turunan hingga Rencanakan Kehamilan
Para dokter dan ahli gizi sepakat bahwa makanan-makanan ini merupakan tambahan yang baik untuk pola makan hampir semua orang. Namun, mereka mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati terhadap produk-produk baru berlabel "fermentasi" yang diproduksi secara massal.
Fermentasi sendiri adalah proses ketika mikroba alami, termasuk bakteri dan ragi, memecah sekaligus mengawetkan makanan.
Menurut Dr. Lisa Ganjhu, ahli gastroenterologi dari NYU Langone Health, manusia sebenarnya sudah lama mempraktikkan fermentasi, hanya saja baru belakangan diketahui bahwa proses ini juga bermanfaat bagi kesehatan usus.
Meski begitu, tidak semua makanan fermentasi otomatis menyehatkan. Ganjhu mencontohkan bir dan anggur (wine) yang meski melalui proses fermentasi, tidak bisa disebut sebagai sumber probiotik. Sebaliknya, kedua minuman ini justru cenderung memberi dampak kurang baik bagi mikrobioma usus.
| Baca Juga: Sering Telat Makan? Waspadai Risiko Batu Empedu
Barbara Olendzki, direktur Center for Applied Nutrition di University of Massachusetts Chan Medical School, menyarankan masyarakat untuk lebih fokus pada makanan fermentasi utuh, seperti bit atau buncis hijau yang difermentasi, selain makanan yang sudah umum dikenal seperti yogurt, kefir, kimchi, sauerkraut, dan tempe.







