Tak Semua Makanan Fermentasi Menyehatkan, Ini Tips Memilihnya
Dua Cara Makanan Fermentasi Menyehatkan Usus
Menurut para ahli, makanan fermentasi bekerja memperbaiki kesehatan usus melalui dua mekanisme utama. Pertama, mikroba di dalamnya membantu proses "pra-pencernaan".
Proses tersebut memecah makanan dan mengubah senyawa yang terkandung di dalamnya sehingga lebih mudah dicerna tubuh. Kedua, bakteri baik tersebut turut menjaga keseimbangan ekosistem usus dengan bersaing melawan bakteri kurang menguntungkan yang sudah lebih dulu ada di saluran pencernaan.
Dalia Perelman, ahli gizi peneliti dari Stanford University, mengakui bahwa penelitian mengenai apa sebenarnya yang membuat makanan fermentasi begitu menyehatkan masih terus berlangsung hingga kini.
| Baca Juga: Sering Konsumsi Minuman Berenergi? Kenali Risiko bagi Kesehatan Gigi dan Mulut
Ia menjelaskan, tidak semua makanan fermentasi memberikan manfaat yang sama. Yogurt misalnya, masih mengandung probiotik hidup saat dikonsumsi. Sementara roti sourdough, karena telah melalui proses pemanggangan atau pengolahan lain, umumnya sudah tidak lagi mengandung mikroba hidup.
Meski demikian, menurut Perelman, ada bukti bahwa sejumlah makanan fermentasi tetap memberi manfaat kesehatan meski mikroba hidupnya sudah tidak ada.
Waspadai Jebakan Pemasaran
Para ahli mengingatkan konsumen untuk berhati-hati terhadap produk olahan seperti soda atau cokelat yang mengklaim diri sebagai "probiotik". Bahkan suplemen probiotik pun pada dasarnya hanya berusaha meniru kombinasi bakteri baik yang secara alami sudah terdapat dalam makanan fermentasi asli, menurut Perelman.
Ia menilai, konsumen kini banyak yang antusias memilih produk berlabel fermentasi karena dianggap "menyehatkan usus". Padahal istilah tersebut sebenarnya bukan definisi klinis yang baku. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh strategi pemasaran berbagai produk.
| Baca Juga: Di Indonesia Jadi Sayur dan Obat, Daun Kelor Dilarang Dikonsumsi di Australia
Ganjhu turut mengingatkan agar masyarakat menghindari produk fermentasi dengan kandungan gula tinggi, karena gula justru menjadi "makanan" bagi bakteri yang kurang menguntungkan, bukan bakteri baik.







