VIVIA MEDIA — Industri mode Indonesia belakangan menunjukkan geliat kreativitas yang semakin matang. Desainer-desainer muda terus lahir dengan koleksi yang berani dan orisinal. Namun di balik pujian atas kreativitas tersebut, muncul satu pertanyaan yang kerap luput dari sorotan: apa yang sebenarnya membuat sebuah brand mode mampu bertahan, bukan sekadar dikenal sesaat?

Menurut para pelaku industri, jawabannya tidak melulu soal desain. Fondasi bisnis yang kuat justru menjadi faktor penentu yang membedakan brand yang bertahan lama dengan yang tenggelam setelah masa populer berlalu.

Ketika Panggung Bukan Lagi Ukuran Keberhasilan

Chairman JF3, Soegianto Nagaria, menilai bahwa keberhasilan industri mode tidak cukup diukur dari panggung peragaan busana semata. Menurutnya, kreativitas desainer Indonesia sebenarnya sudah berada di level yang baik.

Hal yang masih perlu terus diperkuat adalah fondasi bisnis, strategi, dan konsistensi, agar sebuah brand mampu tumbuh dari tahun ke tahun, bukan berhenti setelah namanya mulai dikenal publik.

| Baca Juga: Bukan Sekedar Ikuti Tren, Cara Fashion Lokal Bertahan di Tengah Perubahan Industri

"Saya ingin melihat lebih banyak brand Indonesia yang terus berkembang setiap tahun. Jangan berhenti setelah dikenal. Inovasi harus menjadi bagian dari proses pertumbuhan," kata Soegianto saat bincang-bincang tentang PINTU Incubator 2026 di GAFOY, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta pada Senin (20/7/2026).

Pandangan itu diperkuat oleh Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta. Ia menyoroti bahwa banyak brand lokal memiliki kualitas desain yang kuat, tetapi masih lemah pada aspek bisnis.

Dalam industri mode, kreativitas dan bisnis mesti berjalan beriringan. Seorang desainer tidak harus menjadi ahli di semua bidang, tetapi minimal memahami setiap aspek agar mampu mengambil keputusan yang tepat bagi brand-nya sendiri.

Memahami Pasar Sebelum Melangkah ke Sana

Tantangan berikutnya muncul ketika sebuah brand mulai membidik pasar internasional. Menurut Thresia, kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap ekspansi global cukup dengan membawa produk ke luar negeri.

| Baca Juga: Yanu, Face Icon Pria Pertama JF3: Dari Jember Menuju Mimpi Menembus Panggung Mode Dunia

1 2 3

Tags: