VIVIA MEDIA — Selama empat bulan mengikuti PINTU Incubator, sebuah mentoring bisnis industri fashion, Debora Mettu mengalami perubahan cara pandang. Dari sekadar memikirkan desain dan produksi, Debora melihat label fashion sebagai bisnis yang butuh strategi jangka panjang dan identitas konsisten.

Sebagai desainer yang ingin serius menapaki karier mode, Debora belajar bahwa karakter pasar internasional berbeda-beda di tiap negara.

“Di inkubator kami belajar kalau pasar Eropa seperti apa, Jepang seperti apa. Setiap negara berbeda-beda. Tapi syukurnya kami bisa mengakomodasi kebutuhan buyer karena semua produksi dilakukan secara in-house,” ujar Debora di sela kegiatan PINTU Incubator 2026 di GAFOY, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Senin (20/7).

Pelajaran paling membekas baginya adalah storytelling. Yakni bagaimana sebuah koleksi bisa “berbicara” tanpa kehadiran desainernya.

| Baca Juga: Setelah Kreativitas dan Desain, Brand Fashion Wajib Bangun Fondasi Bisnis

“Kalau aku enggak ada di samping bajunya untuk menjelaskan, bagaimana caranya baju itu tetap bisa menjual dirinya sendiri? Itu yang paling sulit. Storytelling ternyata sangat penting,” katanya. Ia menegaskan bahwa kreativitas saja tidak cukup karena desain harus tetap bisa dijual agar bisnis berjalan.

Baginya, proses inkubasi tersebut membangun fondasi agar label yang telah dirintisnya lebih dari satu dekade bisa terus bersaing di pasar yang lebih luas.

Berawal dari Arsitektur

Sebelum dikenal sebagai desainer, Debora menempuh pendidikan arsitektur di Universitas Tarumanagara, lalu tertarik pada dunia mode dan mengikuti pendidikan desain pola di ESMOD Jakarta.

Namun, ia tidak pernah meninggalkan profesi awalnya. “Aku enggak beralih. Aku double job. Arsitektur masih jalan, brand juga terus growing,” ujarnya sambil tersenyum.

| Baca Juga: Yanu, Face Icon Pria Pertama JF3: Dari Jember Menuju Mimpi Menembus Panggung Mode Dunia

Latar belakang arsitektur ini membentuk gaya dalam desainnya. Garis geometris, konstruksi presisi, siluet bersih, dan potongan asimetris. Namun, menurutnya, yang ia bawa bukan bentuk bangunan secara harfiah, melainkan filosofi di baliknya.

1 2 3 4

Tags: