Tidak Semua Anak Pendek itu Stunting, Ini Peringatan Dokter untuk Orang Tua
VIVIA MEDIA — Selama ini banyak orang tua langsung menyimpulkan anak pendek pasti mengalami stunting. Padahal, di balik tinggi badan yang berada di bawah rata-rata, terdapat berbagai kemungkinan penyebab yang tidak selalu berkaitan dengan kekurangan gizi.
Menurut Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi RS Pondok Indah–Pondok Indah, memandang anggapan tersebut keliru dan bisa berujung pada penanganan yang salah arah.
"Tidak semua anak pendek itu stunting, tetapi semua anak stunting itu pendek. Orang tua yang khawatir dengan tinggi badan anaknya sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk evaluasi yang tepat, bukan berasumsi sendiri," ujarnya.
Data nasional mencatat prevalensi stunting balita turun dari 21,5 persen (2023) menjadi 19,8 persen (2024). Capaian itu membaik dibanding 30,8 persen pada 2018. Namun perbaikan gizi, kata Prof. Aman, tidak boleh membuat penyebab lain di luar stunting terabaikan.
| Baca Juga: Tidak Cukup Jalan Kaki, Ini Dua Kunci Mencegah Sarcopenia
Anak Pendek Belum Tentu Bermasalah
Dalam lebih dari 30 tahun praktik, Prof. Aman kerap menemukan pasien yang dirujuk dengan label stunting, namun ternyata memiliki penyebab lain. Misalnya, perawakan pendek familial (keturunan), gangguan hormon pertumbuhan, gangguan tiroid, penyakit kronis, kelainan tulang, hingga kelainan genetik.
"Kita harus memastikan dulu apakah anak ini pendek sakit atau tidak. Itu yang paling penting," tegasnya.
Menurutnya, kesalahan diagnosis dapat berujung pada penanganan yang tidak tepat.
Anak yang sebenarnya mengalami gangguan hormon, misalnya, bisa saja hanya diberikan tambahan makanan tinggi kalori dengan harapan tubuhnya bertambah tinggi.
| Baca Juga: Konsultasi Genetik jadi Cara Deteksi Risiko Kanker Turunan hingga Rencanakan Kehamilan
Padahal, jika penyebabnya bukan kekurangan asupan, langkah tersebut tidak akan menyelesaikan masalah.







