“Tidak semua pendek karena nutrisi. Bisa karena hormon, bisa karena genetik. Jadi jangan langsung diberi makanan berlebihan tanpa tahu penyebabnya,” tegasnya.

Lebih dari Sekadar Genetik dan Makanan

Prof. Aman menyoroti asumsi umum bahwa tinggi badan cuma soal keturunan dan makanan. Ia mencontohkan Korea Utara dan Korea Selatan yang genetiknya serupa, tetapi rata-rata tinggi penduduknya jauh berbeda.

Hal itu menjadi bukti bahwa faktor ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, bahkan kondisi psikososial ikut berperan.

| Baca Juga: Waspada, Gigi Berlubang pada Anak Bisa Berujung Infeksi dan Ganggu Tumbuh Kembang

Selain itu, faktor emosional juga tidak boleh diabaikan.

Menurut Prof. Aman, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan psikologis dapat mengalami gangguan pertumbuhan akibat pengaruh faktor psikososial.

“Faktor kebahagiaan, hubungan emosional, dan lingkungan keluarga juga berperan dalam pertumbuhan anak,” ujarnya.

Deteksi Dini Jadi Kunci

Pertumbuhan memiliki "jendela waktu". Jika penyebab gangguan terlambat ditemukan, kesempatan anak untuk mencapai potensi tinggi optimal bisa berkurang.

| Baca Juga: Berambisi Hidup 'Abadi', Miliarder Bryan Johnson Kini Menderita Gastritis Autoimun

Karena itu Prof. Aman mendorong orangtua tidak menunggu sampai anak terlihat jauh lebih pendek dari teman sebayanya, melainkan memperhatikan kecepatan pertumbuhannya.

1 2 3

Tags: