Cerita Nicholas Saputra Terlibat Dalam Kerumitan Desain Kreatif Perhiasan Batu Mulia
VIVIA MEDIA — Bagi Nicholas Saputra, merancang perhiasan bukan sekadar soal bentuk. Memilih batu yang tepat justru menjadi pekerjaan paling rumit karena setiap warna membawa karakter dan emosi yang berbeda.
Di hadapan deretan ruby dan sapphire yang tersusun dengan gradasi warna berbeda, Nicholas Saputra tak hanya berbicara tentang desain. Perhatiannya justru lebih banyak tertuju pada batu-batu kecil yang, menurutnya, menjadi inti dari sebuah karya.
Di sanalah proses kreatif benar-benar dimulai: memilih, menyusun, lalu mencari komposisi warna yang mampu menyampaikan sebuah cerita.
Pandangan itu lahir dari perannya sebagai creative director untuk lini perhiasan MONDIAL Precious. Jika sebelumnya ia dikenal sebagai brand ambassador, kini keterlibatannya jauh lebih dalam. Nicholas ikut mengembangkan konsep, mendiskusikan desain bersama tim, hingga memastikan setiap karya tetap setia pada gagasan yang ingin dibangun sejak awal.
Ide yang digagas Nicholas dalam karya kreatif tersebut terkait dengan api. Nicholas melihat elemen api sebagai energi yang terus berubah.
| Baca Juga: Angkat Kekayaan Bali, Happy Salma Ungkap Filosofi di Balik 'Evolusi' Subeng
“Bagi saya, api tidak pernah berhenti bergerak. Ia terus berkembang dan melahirkan bentuk-bentuk baru, dan gagasan itulah yang menjadi dasar penambahan koleksi kali ini,” kata Nicholas saat bincang-bincang tentang MONDIAL Precious x Nicholas Saputra – Fire Collection Unveiling di Bimasena, The Dharmawangsa Jakarta, pada Sabtu (25/7).
Cara pandang itu kemudian diterjemahkan ke dalam tiga tema utama, yakni meteor, lava, dan api itu sendiri.
“Ada tiga tema. Yang sesuatu yang ada di atas, yang ada di dekat, dan sesuatu yang ada di dalam. Tiga-tiganya api, tiga-tiganya punya kekuatan, dan warnanya bisa macam-macam. Itu kita terjemahkan dalam tiga tema utama,” ujar laki-laki kelahiran Jakarta, 24 Februari 1984 itu.
Tema meteor diwujudkan melalui bentuk yang menyerupai material langit yang sedang jatuh. Sementara lava diterjemahkan lewat lekukan yang menggambarkan batuan cair, sedangkan nyala api divisualisasikan melalui komposisi yang lebih dinamis.
| Baca Juga: Ganti Busana 3 Kali, Jennifer Lopez Pamer Berlian Ratusan Karat di Pesta Ultah ke-57
Dibandingkan koleksi sebelumnya, Nicholas memilih mengeksplorasi bentuk yang lebih besar dan lebih berani. Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukanlah menggambar desain.
Pekerjaan Paling Sulit Adalah Memilih Batu
Nicholas mengaku proses yang paling menyita waktu justru terjadi ketika menentukan batu mulia yang akan digunakan. Setiap batu memiliki karakter warna yang berbeda sehingga tidak mudah menemukan kombinasi yang mampu membentuk gradasi secara alami.

“Itu sesuatu yang rumit untuk mencari batu yang pas, mencari gradasi yang pas. Itu sesuatu yang tidak mudah,” kata Nicholas.
Menurutnya, api selalu menghadirkan perubahan warna, mulai dari merah, jingga, kuning, hingga biru. Keragaman itu diterjemahkan melalui susunan ruby dan sapphire yang masing-masing memiliki hue, tone, dan saturation berbeda.
| Baca Juga: Gaya Necis Selebriti di Wimbledon 2026: Inspirasi Tampil Formal nan Elegan
“Gradasi itu bisa mengeksplorasikan sesuatu yang api ini. Bisa merah, bisa oranye. Semua itu kita tampilkan melalui gradasi warna,” ujar pemeran Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta? itu.?
Karena setiap batu memiliki karakter yang berbeda, proses memilihnya tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan warna yang menarik. Seluruh batu harus saling melengkapi agar menghasilkan transisi warna yang terasa utuh ketika dirangkai menjadi sebuah perhiasan.
Tidak Ada Batu yang Benar-Benar Sama
Proses tersebut, kata Nicholas, juga mengajarkannya bahwa tidak ada dua batu yang benar-benar identik. Bahkan ketika berasal dari jenis yang sama, masing-masing tetap memiliki karakter yang berbeda.
“Walaupun kita buat dalam jumlah banyak, pasti tidak akan sama persis. Finishing-nya tetap dilakukan oleh manusia. Kreativitas manusia tetap sangat besar dalam proses pembuatannya,” katanya.
| Baca Juga: Dari Pikachu Hingga Snorlax, Kalung Perhiasan Premium 30 Tahun Pokémon Resmi Dirilis
Nicholas juga membagikan pandangannya mengenai cara memilih batu mulia. Menurutnya, banyak orang mengira batu terbaik selalu ditentukan oleh kualitas atau nilainya. Padahal, untuk batu berwarna, pilihan itu sangat bersifat personal.
“Kalau mau punya colored stones, apa pun itu, harus batunya memang speaks to you. Kadang yang speaks to us bukan yang paling bagus. Bukan berarti harus yang kualitasnya paling tinggi. Tapi what speaks to you the most, itu yang sebenarnya paling penting,” ujar Nicholas.
Laki-laki berdarah Jerman-Jawa ini menjelaskan, berbeda dengan berlian yang memiliki standar penilaian warna yang relatif baku, batu-batu seperti ruby dan sapphire tidak memiliki satu warna yang bisa disebut paling baik untuk semua orang. Ada yang menyukai warna yang lebih terang, ada pula yang justru tertarik pada warna yang lebih pekat.
“Nggak ada yang salah, nggak ada yang benar. Ada orang yang suka sapphire yang lebih terang, ada juga yang lebih suka yang gelap. Semuanya kembali pada selera masing-masing,” kata produser film Rangga & Cinta itu. (*)







