Proses adaptasi pun terasa lebih ringan berkat bantuan lawan mainnya, Claresta Taufan, pemeran Andini. Mos menyebut Claresta selalu menciptakan suasana syuting yang nyaman sehingga chemistry antarpemain dapat terbangun secara alami.

"Kalau di set itu suasananya jadi enak dan dia benar-benar perhatian. Tantangan bahasa memang sangat besar, tetapi saya datang ke sini sebagai aktor sehingga harus terus belajar," ungkapnya.

| Baca Juga: Item, Kurus bak 'Pria dari Ciputat', Penampilan Iqbaal di Trailer Film 'Operasi Pesta Copet'

Selain berlatih akting, Mos juga terus memperbanyak praktik berbicara bahasa Indonesia agar semakin lancar selama proses produksi berlangsung.

Di luar pengalaman akting, Mos ternyata juga membawa pulang kesan manis dari Indonesia melalui kulinernya.

Ia mengaku sangat menyukai cita rasa makanan Indonesia, terutama masakan Padang dari rumah makan Pagi Sore yang pertama kali dikenalkannya saat awal tiba di Jakarta.

Mos bahkan mengaku hampir setiap hari kembali menikmati hidangan di restoran tersebut.

| Baca Juga: YouTuber Indonesia Medy Renaldy Diajak Tom Holland Lakukan Salam Ikonik Spider-Man

"Kalau makanan Indonesia benar-benar cocok banget di mulut aku. Habis diajak makan di Pagi Sore, jadinya makan Pagi Sore terus tiap hari. Kalau ada Pagi Sore di mana, ada aku di situ. Enggak gendut kok, soalnya aku juga olahraga tiap hari," ujarnya sambil tertawa.

Dengan kehadiran Moslhong, Bunga di Tepi Jurang bukan hanya menawarkan kisah emosional tentang perjuangan hidup, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi internasional yang memperkaya industri serial Indonesia. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: