VIVIA MEDIA — Banyak orang tua mengira kecerdasan anak ditentukan oleh seberapa cepat ia dikenalkan pada pelajaran akademis. Padahal, kecerdasan itu muncul dan berpengaruh pada fase lima tahun pertama tumbuh kembang anak.

Menurut dokter spesialis anak dr. Yoga Yandika, Sp.A, jawabannya jauh lebih mendasar, yakni ada di dalam otak itu sendiri, dan prosesnya sudah dimulai sejak hari pertama anak lahir.

"Kalau kita berbicara tentang pertumbuhan otak anak, periode yang paling penting adalah usia 0 sampai 5 tahun. Pada masa itu otak tumbuh dan berkembang sangat cepat," ujar dr. Yoga yang juga Founder Yo Clinic – Klinik Anak, Gigi dan Fisioterapi, dalam sebuah bincang-bincang bertajuk S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain di Senayan City, Jakarta.

Sinaptogenesis: Pabrik Koneksi di Kepala Anak

Sejak lahir, otak anak tidak pernah berhenti bekerja. Ia terus membangun jalur-jalur baru yang menghubungkan satu sel saraf dengan sel saraf lainnya. Semakin banyak pengalaman yang didapat anak, semakin banyak pula koneksi yang terbentuk. Proses inilah yang secara ilmiah disebut sinaptogenesis.

| Baca Juga: Tidak Semua Anak Pendek itu Stunting, Ini Peringatan Dokter untuk Orang Tua

"Ketika anak belajar sesuatu yang baru, konektivitas antarsel saraf akan terbentuk. Akhirnya, cara berpikirnya menjadi lebih cepat. Itulah yang kita sebut sebagai sinaptogenesis," jelas dr. Yoga.

Koneksi ini tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk lewat pengalaman nyata: anak mencoba, menyentuh, mendengar, melihat, dan gagal berkali-kali sebelum akhirnya paham. Karena itu, dr. Yoga menegaskan bahwa eksplorasi bukan sekadar aktivitas iseng, melainkan bagian inti dari cara kerja otak anak membangun dirinya sendiri.

"Awalnya mungkin anak hanya menyukai satu bidang. Namun, setelah mendapatkan pengalaman yang beragam, dia mulai menemukan minat lain. Semua pengalaman itu saling berkoneksi di dalam otaknya," katanya.

Mielin: "Kabel Isolasi" yang Mempercepat Kerja Otak

Selain koneksi antarsel, ada satu komponen lain yang sama pentingnya: mielin. Ini adalah lapisan pelindung yang membungkus serabut saraf, fungsinya mirip seperti pelapis kabel listrik yang membuat sinyal listrik di dalam otak mengalir lebih cepat dan lebih efisien.

| Baca Juga: Waspada, Gigi Berlubang pada Anak Bisa Berujung Infeksi dan Ganggu Tumbuh Kembang

"Kalau mielinnya terbentuk dengan baik, proses penghantaran informasi menjadi lebih cepat," ujar dr. Yoga.

Pembentukan mielin bukan proses otomatis. Ia membutuhkan asupan gizi spesifik, di antaranya sphingomyelin dan fosfolipid, yang hanya bisa dipenuhi lewat pola makan yang tepat. Di sinilah nutrisi dan perkembangan otak saling terkait erat. Asupan susu atau sepiring makanan bergizi ternyata punya andil langsung dalam kecepatan berpikir anak di masa depan.

Nutrisi: Fondasi, Bukan Pelengkap

Menurut dr. Yoga, nutrisi dan stimulasi punya peran yang berbeda tapi saling melengkapi. "Nutrisi itu kondisi dasarnya. Kalau nutrisinya baik, fondasinya juga baik. Sementara stimulasi bertugas memperkuat cabang-cabangnya sehingga konektivitas otak berkembang lebih baik," katanya.

Ia menyebut protein hewani, khususnya ikan, sebagai salah satu sumber gizi kunci selama masa pertumbuhan otak anak. Namun ia mengingatkan, tidak ada satu jenis makanan ajaib yang bisa menggantikan pola makan bergizi seimbang secara keseluruhan.

| Baca Juga: Memahami Cara Kerja Nebulizer untuk Anak, Kunci Efektivitas Terapi Inhalasi

Pandangan ini sejalan dengan yang disampaikan Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, Vera Niki Gozali. "Kami percaya setiap anak memiliki potensi yang unik. Dengan stimulasi yang konsisten, pengalaman belajar yang beragam, dan dukungan yang tepat, setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya," ujarnya.

Kenapa Usia 0–5 Tahun Tidak Bisa Diulang

Yang membuat periode ini begitu krusial adalah kenyataan bahwa kecepatan pembentukan koneksi otak pada fase ini tidak akan pernah terulang di fase kehidupan mana pun setelahnya. Jendela emas ini hanya terbuka sekali, dan apa yang terjadi di dalamnya, baik dari sisi nutrisi maupun stimulasi, akan menjadi fondasi permanen bagi kemampuan belajar, berpikir, dan beradaptasi anak di masa dewasa.

Karena itu, dr. Yoga mengajak orang tua untuk melihat lebih jauh dari sekadar "anak sudah bisa apa". Namun, orang tua perlu mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala anak mereka setiap hari, sebuah proses biologis luar biasa yang berlangsung diam-diam, namun menentukan masa depan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: