Cerita di Balik Viralnya Kasus Pencurian Ayam di Tabanan Bali
VIVIA MEDIA — Kadek Darmawan (38), warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, tewas usai dikeroyok massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Jumat (24/7/2026) malam.
Ia diduga mencuri dua ekor ayam aduan milik warga setempat. Kasus ini menyita perhatian publik setelah video pengeroyokan tersebar di media sosial.
Latar Belakang Kasus
Kasus pencurian ayam aduan bukan hal baru di wilayah Kecamatan Baturiti. Menurut keterangan tokoh adat dan perangkat desa setempat, aksi pencurian ternak, terutama ayam ras dan ayam aduan impor bernilai jutaan rupiah per ekor sudah berlangsung hampir empat bulan.
Situasi itu meresahkan warga di empat banjar, yakni Banjar Juwuk Legi, Banjar Batunya, Banjar Tamananu, dan Banjar Abing. Perbekel Desa Antapan bahkan mencatat setidaknya 16 kejadian pencurian dalam kurun waktu tersebut, dengan lebih dari 100 ekor ayam dilaporkan hilang.
| Baca Juga: Pengguna Khawatirkan Keamanan Data, Benarkah Website iLovePDF Berbahaya?
Keresahan itu membuat warga memperketat pengamanan lingkungan melalui ronda malam.
Pada malam kejadian, warga dikabarkan mendengar bunyi kulkul bulus, sinyal tanda bahaya dalam tradisi Bali, yang memicu warga berkumpul. Ketika diketahui warga menangkap basah seorang terduga pelaku, emosi memuncak dan berujung pada pengeroyokan yang menewaskan Kadek.
Polres Tabanan kemudian menetapkan lima warga berinisial MJ, WS, KB, MK, dan ND sebagai tersangka. Polisi juga melakukan ekshumasi jenazah korban untuk memastikan penyebab kematian melalui autopsi forensik.
Duka yang Tak Kunjung Reda
Putu Dewi Suryantini nampak masih berduka. Kematian suaminya, Kadek Darmawan, yang terjadi begitu tragis meninggalkan luka trauma mendalam bagi Putu Dewi bersama kedua buah hatinya.
| Baca Juga: Diduga Diculik, Atlet Golf Jesslyn Wijaya Ditengarai Sudah Tak Ada di Jakarta
Meski secara perlahan Putu Dewi kini sudah mulai bangkit mengawali kehidupan baru, bayang-bayang kematian suaminya pada Jumat malam dalam kondisi mengenaskan, usai dikeroyok warga karena dituduh mencuri dua ekor ayam aduan di Baturiti, Tabanan, Bali, masih menghantuinya.
Saat dihubungi, Putu Dewi menceritakan bahwa meski sudah beberapa hari berlalu, ia masih merasa ada beban berat yang tidak jelas ujungnya.
Kehilangan suami tercinta membuat Putu Dewi hanya bisa pasrah. “Masih trauma, saya merasa tertekan, batin saya tidak tenang, tapi tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Putu Dewi saat dihubungi Rabu (29/7/2026).
Tidak banyak yang bisa dilakukan Putu Dewi bersama kedua anaknya, Kadek Deyya Sekar Sari dan Komang Keiys Puspita Putri. Untuk menghilangkan rasa sedih, ia mengaku hanya bisa banyak berdoa. Ia juga merasa terhibur karena banyak orang yang bersimpati kepada anak-anaknya.

Tangis Komang yang menyayat hati memanggil ayahnya yang sudah tak bernyawa sempat menjadi viral. Di balik peristiwa pencurian dan aksi pengeroyokan itu, ternyata ada sebuah keluarga yang kini harus menjalani hidup tanpa sosok ayah.
Putu Dewi mengatakan, perasaan sedih yang dirasakan anak-anaknya selama beberapa hari terakhir ini perlahan mulai mereda dan mereka sudah bisa menerima keadaan. Hanya si bungsu yang masih sering melamun. “Kalau kakaknya sudah mulai tenang, si bungsu (Komang) kadang suka jatuh sakit,” kata Putu Dewi.
Di tengah suasana berduka, Putu Dewi mengapresiasi perhatian yang diberikan berbagai pihak kepada pelajar kelas 2 SD itu, sehingga ia merasa sangat terhibur.
Putu Dewi mengungkapkan, sebagai istri korban, ia berusaha bersikap tenang dan menyerahkan proses penyidikan kepada polisi. “Saya fokus ke anak-anak, ada yang berwenang mengurusnya,” katanya.
| Baca Juga: PM Australia Minta Maaf Atas Pernyataan Kontroversial Terkait Kylie Minogue
Didampingi sepupu suaminya, Made Parta, Putu Dewi mengaku tak mempunyai firasat apa pun sebelum suaminya dikabarkan meninggal dunia.
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pengrajin anyaman dengan penghasilan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per hari itu juga tak melihat ada sesuatu yang berbeda dari suaminya. “Tahu-tahu ada kejadian begini,” tuturnya.
Putu Dewi menceritakan, sehari sebelum peristiwa brutal itu terjadi, ia sempat meminta uang kepada suaminya untuk membayar uang gedung sekolah Deyya Sekar Sari, yang baru diterima masuk SMA, sebesar Rp2,7 juta.
Ketika itu Kadek tidak berkata apa-apa kepada istrinya. “Hari Jumat saya bayar uang gedung sekolah anak, saya enggak tahu suami dapat uang dari mana. Waktu saya minta uang sekolah anak, dia enggak ngomong apa-apa, cuma kasih uangnya terus pergi,” beber Putu Dewi.
| Baca Juga: Peserta Clash of Champions, Ghaza Didiskualifikasi Imbas Kasus Dugaan Pelecehan Seksual
Sebagai seorang ayah, ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya. “Enggak ada yang berubah, dia memang pendiam,” ujarnya.
Made Parta mengatakan, Kadek sempat menghilang selama tiga hari. Ia kemudian mendapat kabar dari perbekel desa yang mengabarkan musibah tersebut. Bersama perbekel desa, Made Parta menjemput jenazah Kadek untuk dibawa ke rumah duka. “Saya yang jemput,” ujar Made Parta.
Polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka pengeroyokan dan menggelar autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban. Made Parta menegaskan, meski sepupunya bersalah karena mencuri ayam, kematian yang begitu tragis membuat keluarga tetap menyesalkan tindakan brutal tersebut.
Keluarga berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal. “Kami awalnya mengira itu kematian biasa. Setelah melihat video yang beredar, rasa sakit sekali, terlalu keji dan tidak berperikemanusiaan. Istri korban berpesan agar pelaku dihukum setimpal,” kata Made Parta.
| Baca Juga: Siapa Nabila Gardena? Selebgram Menantu Koruptor Timah Rp300 Triliun yang Viral
Made Parta juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada keluarga korban. “Kalau ada yang berkenan dan tergerak hatinya untuk mengulurkan tangan, baik pemerintah, tetangga, atau siapa saja, semoga bisa membantu kehidupan mereka. Anak-anaknya kan harus sekolah sampai selesai,” pinta Made Parta.
Keluarga Tersangka: Mengaku Bela Diri
Di sisi lain, pihak keluarga lima tersangka pengeroyokan memohon keringanan hukuman. Mereka berdalih tindakan tersebut murni upaya membela diri karena korban sempat mengancam warga menggunakan senjata tajam saat kedapatan mencuri ayam.
Salah satu istri tersangka, Ni Putu Ayu Yuni Astini, mengungkapkan bahwa suaminya MJ dan seorang kerabat yang sama-sama menjadi tersangka tidak berniat melakukan kekerasan hingga menyebabkan kematian.

Ia menyebut insiden berawal ketika sang kerabat memergoki korban sedang mencuri ayam di pondok mereka pada dini hari kejadian. “Artinya suami dan ipar saya posisinya membela diri juga,” ungkapnya.
Sebagai ibu dua anak yang mengandalkan sang suami sebagai tulang punggung keluarga, ia berharap suaminya bisa dibebaskan atau setidaknya mendapat hukuman yang ringan.
Pemuka Adat: Warga Sudah Lama Resah
Bendesa Adat Juwuk Legi, I Nyoman Wirawan, menjelaskan bahwa warganya sebenarnya tidak menghendaki terjadinya aksi pengeroyokan tersebut. Namun, kekesalan warga disebut memuncak karena korban diduga berulang kali melakukan pencurian yang meresahkan, tidak hanya di Banjar Juwuk Legi tetapi juga di sejumlah banjar lain di Kecamatan Baturiti.
“Warga kami spontan karena saking geramnya sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Ia menegaskan masyarakat menghormati proses hukum yang berjalan terhadap lima tersangka, namun berharap kronologi versi warga turut didengar agar penilaian publik tidak sepihak. Pihak desa adat disebut berencana mendatangi Polres Tabanan untuk menyampaikan permohonan penanganan perkara secara proporsional.
Sebagai bentuk pembersihan spiritual wilayah pascaperistiwa, desa adat juga telah menggelar upacara pecaruan. (*)







