Mengapa Para Desainer Kini Kembali Mencari Artisan? Ini Alasannya
VIVIA MEDIA — Industri mode sedang berada di persimpangan antara laju produksi cepat yang efisien secara bisnis dan dampak buruknya seperti limbah tekstil, eksploitasi sumber daya, serta memudarnya identitas budaya. Di tengah situasi itu, keterampilan kerajinan tradisional kembali dilirik.
Bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai fondasi masa depan mode yang lebih bertanggung jawab. Keahlian tangan, material lokal, dan pengetahuan lintas generasi dianggap mampu menghadirkan cara pandang baru dalam proses penciptaan produk fesyen.
Dalam konteks ini, artisan merujuk pada pengrajin terampil yang menguasai teknik pembuatan produk secara manual dan tradisional.
Misalnya saja batik. Ia biasanya diwariskan turun-temurun. Artisan menjadi penjaga utama pengetahuan dan budaya di balik sebuah karya kerajinan tersebut.
| Baca Juga: Arsitek Merangkap Desainer: Debora Mettu dan Filosofi Garis di Balik Setiap Rancangannya
Menerjemahkan nilai tersebut ke sistem industri modern bukan hal mudah. Desainer muda menghadapi berbagai keterbatasan.
Mulai dari akses material berkualitas, kapasitas produksi berbasis kerajinan yang terbatas, hingga dilema menjaga idealisme keberlanjutan tanpa mengorbankan keberlangsungan bisnis. Hal ini mengemuka dalam Indonesian French Seminar on Fashion and Craftsmanship bertajuk Rethinking the Fashion of Tomorrow di IFI Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Gabriel Marcella Budiono, desainer sekaligus residen PINTU, menilai isu keberlanjutan tak bisa dipisahkan dari keseluruhan ekosistem mode.
“Persoalannya kompleks. Semua faktor saling berkaitan. Indonesia perlu mulai membangun pembicaraan tentang sustainability sekaligus memperkuat perlindungan bagi artisan, desainer, dan seluruh pekerja di industri,” ujarnya.
| Baca Juga: Jadi Juri Fashion Show, Bunga Jelitha Beri Pesan Model Harus Siap Mental
Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia, menegaskan tantangan terbesar bukan menambah volume produksi, melainkan meningkatkan kualitas manusia di baliknya.
“Kalau kita menggunakan logika bisnis yang hanya mengejar volume, saya pikir kita justru akan menghancurkan apa yang seharusnya kita miliki,” katanya.
Baginya, pertumbuhan berarti peningkatan kapasitas artisan, kualitas produk, konsistensi, dan profesionalisme, yang hanya bisa terwujud lewat pendidikan berkelanjutan bagi desainer maupun artisan.
Pandangan ini sejalan dengan Darja Richter Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA PSL Prancis, yang menilai edukasi soal asal usul material dan nilai budaya harus dimulai sejak dini. Ia juga mengingatkan bahwa mode adalah kerja kolektif.
| Baca Juga: Garuda dalam Songket, Bahasa Fashion Baru Kolaborasi Desainer Indonesia-Prancis
“Kita tidak harus menjadi bintang. Kita harus menjadi kelompok bintang. Di balik satu koleksi ada begitu banyak orang kreatif yang memiliki perannya masing masing,” jelasnya.
Bagi desainer muda, idealisme kerap berbenturan dengan realitas. Mickael Nana, Founder MARLON NANA sekaligus residen PINTU, mengungkap keterbatasan modal jadi hambatan utama praktik produksi bertanggung jawab.
“Masalah ini terjadi di seluruh dunia. Hanya perusahaan besar yang mampu memastikan seluruh material mereka benar-benar dapat ditelusuri. Desainer kecil sering kali tidak memiliki akses yang sama,” ungkapnya.
Fengyuan Dai, Founder 30%70, menyoroti pentingnya titik temu antara idealisme dan bisnis, sehingga banyak desainer muda memilih bekerja sama dengan pengrajin skala kecil ketimbang manufaktur besar.
| Baca Juga: Bando Zig-Zag Comeback! Hailey Bieber Hidupkan Kembali Tren Era 2000-an Ini
Gabriel menekankan bahwa solusi atas keterbatasan produksi bukan mempercepat kerja artisan, melainkan memperbanyak jumlah orang yang memiliki keterampilan tersebut melalui pendidikan dan regenerasi.
Sementara itu, Thresia menggarisbawahi pentingnya kepercayaan dalam relasi desainer dan artisan.
“Kalau bekerja dengan artisan, kita tidak bisa hanya datang membawa desain lalu meminta mereka membuatkannya. Yang perlu dibangun adalah kepercayaan,” ujarnya, seraya mengingatkan agar artisan tidak melulu dipandang romantis sebab mereka juga perlu penghidupan yang layak secara komersial.
Diskusi turut menyoroti bagaimana menjaga tradisi tanpa menjadikannya sekadar komoditas. Menurut Thresia, kuncinya terletak pada niat dan tujuan pembuatan produk.
| Baca Juga: Setelah Kreativitas dan Desain, Brand Fashion Wajib Bangun Fondasi Bisnis
Mickael menambahkan pentingnya memastikan manfaat sampai kepada pihak pihak di balik penciptaan karya, sekaligus membedakan antara melindungi sebuah craft dan menguasainya sepenuhnya. Sementara Fengyuan memilih strategi koleksi, menghadirkan sebagian karya yang menonjolkan craftsmanship dan sebagian lain yang tetap terjangkau bagi konsumen.
Para pembicara akhirnya sepakat, masa depan industri mode tidak semata ditentukan regulasi atau teknologi, melainkan oleh pendidikan, riset, inovasi, kolaborasi, serta hubungan sehat antara desainer, artisan, produsen, dan konsumen.
Thresia menegaskan bahwa prioritas lima tahun ke depan adalah membangun ekosistem yang lebih kuat, bukan mengejar volume. Gabriel juga berharap desainer dapat mempererat hubungan dengan generasi kedua dan ketiga artisan. Misalnya di bidang batik.
Masa depan mode, pada akhirnya, akan dimiliki oleh mereka yang mampu membangun hubungan paling kuat antara manusia, pengetahuan, budaya, dan nilai di balik setiap karya. (*)







