Tak Semua Mata Minus Cocok Menjalani LASIK
"Perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan kelainan refraksi, seperti miopia, hipermetropia, serta astigmatisme," ujar Dr. Sharita.
Ia menambahkan bahwa pada astigmatisme reguler, kelengkungan kornea masih berpola teratur dan umumnya dapat dikoreksi dengan kacamata, sementara pada astigmatisme tidak teratur, cahaya bisa tersebar ke beberapa titik hingga menimbulkan distorsi dan silau.
| Baca Juga: Rajin Sikat Gigi tapi Tetap Kuning? Dokter Ungkap Penyebabnya
Perkembangan teknologi kesehatan mata kini menghadirkan berbagai pilihan koreksi refraksi, mulai dari kacamata dan lensa kontak, bedah refraktif seperti LASIK dan SMILE (Small Incision Lenticule Extraction), hingga penanaman lensa tambahan lewat Implantable Collamer Lens (ICL).
LASIK bekerja dengan membentuk ulang kornea menggunakan laser femtosecond untuk membuat flap, lalu laser excimer membentuk ulang jaringan kornea sesuai kebutuhan koreksi.
SMILE dilakukan tanpa membuat flap, sedangkan ICL dipilih untuk pasien yang kondisi korneanya tidak memungkinkan pembentukan ulang dengan laser. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat menambahkan corneal cross-linking (CXL) untuk memperkuat struktur kornea.
Dr. Sharita menegaskan bahwa seluruh tindakan yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada kacamata bekerja pada kornea, berbeda dengan operasi katarak yang menyasar lensa mata.
| Baca Juga: Pasca Melahirkan, Amanda Manopo Alami Rambut Rontok hingga Mom Brain
Karena itu, keputusan terapi tidak bisa hanya berdasarkan angka minus atau silinder, melainkan mempertimbangkan usia, kestabilan ukuran kacamata, serta kesehatan mata secara keseluruhan.
Sebelum menjalani koreksi penglihatan, pasien perlu melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh. Hal itu mencakup bentuk dan ketebalan kornea, kondisi permukaan mata, lapisan air mata, tekanan bola mata, ukuran pupil, hingga kesehatan retina.
"Secara umum, kandidat laser vision correction harus berusia minimal 18 tahun, memiliki ukuran minus atau silinder yang stabil setidaknya selama 12 bulan, tidak sedang hamil atau menyusui, serta memiliki kondisi dan ketebalan kornea yang memenuhi parameter keamanan," kata Dr. Sharita.
Ia menambahkan bahwa ketebalan kornea tidak bisa menjadi satu satunya patokan, karena hasil pemeriksaan harus dilihat secara menyeluruh bersama simulasi tindakan.







