Ari Irham Tampil Gondrong dan Tindik Telinga untuk Karakter di Film 'Seni Merayu Tuhan'
VIVIA MEDIA — Ari Irham kembali menunjukkan dedikasi luar biasanya dalam dunia seni peran. Kali ini, ia didapuk untuk memerankan karakter utama bernama Hikmah dalam film 'Seni Merayu Tuhan'.
Film ini merupakan adaptasi dari buku bestseller karya pendakwah populer Habib Husein Jafar Al-Hadar (Habib Jafar) dan menjadi debut penyutradaraan bagi editor pemenang Piala Citra, Cesa David Luckmansyah.
Dalam film produksi Wahana Kreator tersebut, Ari Irham bertransformasi menjadi sosok remaja yang tengah bergejolak mencari jati diri serta merenungkan kembali hubungannya dengan Sang Pencipta.
Hikmah digambarkan sebagai pemuda yang sedang berusaha mencari "jalan pulang" setelah melewati berbagai pergulatan hidup yang cukup pelik.
| Baca Juga: Denny Sumargo Rela Botak Demi Film 'Baby Udon'
Transformasi Fisik: Rambut Gondrong hingga Kumisan
Ada yang berbeda dari penampilan fisik Ari Irham dalam proyek film ini. Biasa tampil klimis dan rapi, kali ini Ari muncul dengan rambut sedikit gondrong, kumis, serta anting yang menghiasi dua telinganya. Ia menjelaskan bahwa perubahan drastis tersebut merupakan kebutuhan karakter yang tertuang dalam skenario.
"Ini memang sudah sesuai dengan desain dari skenarionya. Karena karakter Hikmah ini didesain sebagai anak yang baru saja bekerja di sebuah agensi, dia seorang editor. Mungkin hidupnya sangat sibuk sehingga dia tidak terlalu memikirkan penampilannya," jelas Ari Irham saat ditemui di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2026).
Kekasih aktris Taskya Namya ini menambahkan bahwa sosok Hikmah memang dikonsepkan memiliki citra yang sedikit berantakan.
"Jadi, memang karakternya dibuat seperti ini: rambut panjang, berkumis, dan berjenggot," katanya lebih lanjut.
| Baca Juga: Debut Layar Lebar Langsung Tokoh Utama di 'Dan Bandung', Shanna Shannon Sempat Nervous
Ari mengungkapkan bahwa ia membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk menumbuhkan kumis aslinya demi peran ini. Menariknya, ia sempat berencana menumbuhkan jenggot di bagian dagu, namun rencana itu dibatalkan setelah melakukan diskusi dengan tim produksi.
"Asalnya saya mau pakai jenggot juga di sini (menunjuk dagu), cuma akhirnya dipotong karena kelihatannya jadi terlalu 'licik' kalau ada jenggotnya, kata mereka. Akhirnya dihapus, jadi cuma kumis saja," kenang Ari sembari tertawa.
Pengorbanan Tindik Telinga
Tak hanya urusan bulu wajah, totalitas Ari Irham juga dibuktikan dengan keputusannya untuk menindik dua telinganya secara nyata. Hal ini dilakukan demi memperkuat identitas karakter Hikmah sebagai editor muda yang eksentrik.
"Lucunya, anting ini beneran. Saya tindik beneran untuk peran ini," ungkap Ari.
| Baca Juga: Ari Irham Belajar Jadi Vokalis Band Demi Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis
Namun, di balik totalitas tersebut, ada sebuah kejadian unik dan cukup menyulitkan saat proses syuting berlangsung. Kejadian itu bermula saat Ari harus melakoni adegan emosional di area pemakaman, di mana karakternya diminta untuk melantunkan azan di liang kubur ibunya.
"Ada satu kejadian lucu, ada adegan di kuburan di mana saya harus melantunkan azan. Saat itu antingnya harus dicopot karena adegannya sedang di pemakaman. Karena baru beberapa hari ditindik, pas dicopot dan selesai syuting adegan itu, mau dipasang lagi ternyata lubangnya sudah menutup lagi," ceritanya.
Lantaran proses penutupan lubang tindik yang sangat cepat, Ari tidak memiliki waktu untuk melakukan tindik ulang di tengah jadwal syuting yang padat.
"Cepat sekali menutupnya. Akhirnya untuk sisa syuting, saya pakai anting jepit saja karena tidak sempat kalau harus tindik lagi," tambah bintang film Tak Kan Kubiarkan Kau Menangis itu.
Refleksi Diri: Belajar Menekan Ego
Masuk ke dalam karakter Hikmah ternyata memberikan dampak personal bagi Ari Irham. Ia mengaku bahwa ada bagian dari sifat Hikmah yang sangat relevan dengan kehidupannya sendiri, terutama mengenai sifat egois yang terkadang muncul dalam diri manusia.
"Ada sih (kaitan karakter dengan diri sendiri). Jujur, saya deg-degan juga nih ditonton sama teman-teman semua yang ada di sini. Tapi, salah satu refleksi dari karakter Hikmah itu mungkin sifat keegoisannya kali ya," aku Ari dengan jujur.
Anak bungsu dari dua bersaudara ini merefleksikan bagaimana di masa lalu, dirinya mungkin pernah merasa paling benar dan abai terhadap orang-orang di sekitarnya. Namun, melalui film Seni Merayu Tuhan, Ari merasa mendapatkan teguran positif untuk lebih menghargai keberadaan sahabat yang jujur.
"Sifat keegoisan dalam diri aku juga mungkin pernah aku rasakan, di mana aku selalu merasa paling benar dan tidak memikirkan orang lain di dalam hidup. Tapi untungnya, saya pribadi jadi bersyukur setelah menonton film ini," tuturnya.
| Baca Juga: Bintang Remaja 'Agent Kim Reactivated' Mengaku Kerja Part-Time di Kedai Takoyaki Saat Syuting Rampung
Bagi Ari Irham, film ini mengingatkannya akan pentingnya memiliki lingkungan pertemanan yang berani menegur kesalahannya, sesederhana apapun itu.
"Film ini mengingatkan saya bahwa saya itu masih punya teman yang bisa bilang kalau saya itu 'bau ketek' gitu, atau bau mulut. Ada teman seperti Khatib di hidup saya," kata bintang film Rego Nyowo ini.
"Jadi saya bersyukur banget setelah menonton film ini, karena mengingatkan saya tentang hal-hal yang mungkin sehari-hari saya anggap remeh, tapi itu sebenarnya penting buat saya dan sering saya lupakan," tambah Ari penuh haru.
Film ini menceritakan perjalanan spiritual Hikmah (Ari Irham) yang berduka setelah ibunya (Rieke Diah Pitaloka) meninggal dunia. Bersama sahabatnya Hotib (Teuku Ryzki) dan kekasih beda agama Sophia (Lutesha), ia berusaha memahami keikhlasan agar ibunya tenang.
| Baca Juga: Dukungan Penuh Andrew Garfield untuk Film ‘Spider-Man’ Terbaru Tom Holland
Film ini juga dibintangi Sita Nursanti, Onadio Leonardo, hingga Alfie Alfiandy. Menariknya, Habib Jafar dan komika Arie Kriting juga turut mengambil peran dalam film ini.
Di bangku produser, terdapat nama-nama besar di industri perfilman Indonesia seperti Salman Aristo dan Sigit Pratama. Skenario film ini ditulis secara kolaboratif oleh Rino Sarjono bersama Salman Aristo dan Gina S. Noer. Gina S. Noer juga bertindak sebagai produser eksekutif bersama Orchida Ramadhania. (*)







