Syuting Jadi Jenazah di Film 'Seni Merayu Tuhan', Rieke Diah Pitaloka Malah Ketiduran
VIVIA MEDIA — Aktris sekaligus politisi Rieke Diah Pitaloka kembali ke dunia seni peran melalui film terbarunya Seni Merayu Tuhan. Dalam film ini, Rieke memberikan totalitas akting, termasuk saat dirinya harus melakoni adegan menjadi jenazah.
Ditemui di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, pada Selasa (4/8/2026), Rieke membagikan pengalamannya memerankan karakter Halimah. Meski durasi syuting untuk adegan tertentu tergolong singkat, Rieke mengaku proses pendalaman emosinya sangat menguras energi.
Selama proses syuting yang berlangsung selama tiga hari, Rieke dituntut untuk mengeksplorasi emosi yang ekstrem. Salah satu tantangan terberat adalah saat adegan mimpi di mana karakternya harus menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Ada adegan di mimpi yang butuh eksplorasi emosi luar biasa. Karakter Ibu yang biasanya lembut harus berubah menunjukkan kesedihan yang 'berdarah-darah'. Saya diminta melakukan beberapa jenis tangisan," kenang Rieke.
| Baca Juga: Mathias Muchus Belajar Makna 'Istimewa' Saat Beradu Akting dengan Penyandang Disabilitas
Tidur Pulas Saat Menjadi 'Jenazah'
Kelelahan akibat tuntutan akting yang intens itulah yang membuatnya tidak terbangun bahkan setelah adegan selesai.
"Nah, lucunya, karena capek syuting emosional itu, pas ada adegan saya harus berakting meninggal, saya malah beneran ketiduran saking nyenyaknya. Sampai-sampai kru harus towel-towel saya karena adegannya sudah selesai tapi saya nggak bangun-bangun," kenangnya.
Rieke mengungkapkan bahwa sebelum adegan menjadi jenazah, ia harus melewati rangkaian adegan emosional yang sangat berat. Hal ini membuatnya mencapai titik lelah yang luar biasa secara fisik dan mental.
Namun, keunikan terjadi saat ia harus berakting sebagai jenazah. Alih-alih merasa tegang atau takut, Rieke justru merasa sangat tenang hingga benar-benar terlelap di lokasi syuting. Baginya, momen tersebut justru menjadi sarana relaksasi di tengah padatnya jadwal pekerjaan.
| Baca Juga: Sudah Beranjak Remaja dan Punya Hobi Ekstrem, Ini Cerita Rieke Diah Pitaloka Soal Anak-Anaknya
"Alhamdulillah sepanjang syuting yang itu cukup lama adegannya, saya tidur. Saya beneran habis capek disuruh akting yang gila kayak gitu, saya tidur beneran, 'Ya Allah, terima kasih ya Allah.' Begini cara seni merayu Tuhan dengan tidur yang pulas di lokasi syuting," ungkapnya sembari tertawa.
Pengalaman tersebut rupanya membawa permenungan filosofis bagi pemeran tokoh Oneng ini di Sitkom Bajaj Bajuri ini. Ia merasa bahwa kematian tidaklah semenakutkan yang dibayangkan jika dihadapi dengan kepasrahan.
"Ternyata meninggal itu bukan sesuatu yang menakutkan ketika kamu menghadapi dengan tenang seperti orang tidur," tambah Rieke.
Menjalani Proses Casting demi Peran
Kembalinya Rieke ke layar lebar bukan tanpa perjuangan. Meski sudah memiliki nama besar, ia menegaskan tetap mengikuti prosedur formal dalam industri film, termasuk menjalani proses casting sebanyak tiga kali.
| Baca Juga: Debut Main Film, Ini Cerita Fiki Naki Saat Ikut Casting 'Paket Santet'
"Ketika kita membaca naskah dan kita sudah komit, lewat casting. Saya casting tiga kali, sama dengan Ari Irham. Di tiap peran selalu saya minta casting. Saya tidak mau orang asal tunjuk begitu saja," tegasnya.
Bagi Rieke, casting adalah cara untuk memastikan keselarasan antara dirinya, naskah, dan visi sutradara. Selain itu, ia harus melepaskan identitas politiknya serta karakter ikonik "Oneng" dari sitkom Bajaj Bajuri yang sudah melekat selama puluhan tahun atas permintaan khusus sutradara Cesa David.
"Ketika memerankan suatu karakter, ya kita harus melepaskan semua atribut kita. Itulah momen oase bagi saya. Oase untuk jeda sejenak, melepaskan semuanya, " ujar Rieke.
"Semua pekerjaan yang hiruk-pikuk begitu di profesi saya sekarang. Dan saya menemukan.dunia akting adalah jalan pulang selalu buat saya untuk lebih menjadi manusia," sambungnya.
| Baca Juga: Film 'Monster Pabrik Rambut' Borong Tiga Penghargaan di Dua Festival Film Internasional
Manajemen Waktu di Tengah Kesibukan Parlemen
Sebagai anggota DPR RI, Rieke harus pintar membagi waktu antara tugas negara dan kecintaannya pada seni. Ia memanfaatkan masa reses dan akhir pekan untuk menyelesaikan proses syuting.
"Tadi saya katakan cuma tiga hari lah syuting, dan itu saya ambil di hari weekend. Dan saat itu juga masa reses, jadi setelah laporan reses itu tidak sidang di parlemen, tapi kita turun ke masyarakat," jelas Rieke.
Meski waktu syuting singkat, ia tetap mengutamakan kualitas dengan melakukan pendalaman karakter di kediamannya bersama lawan main seperti Ari Irham dan Kiki.
"Ari datang ke rumah saya, juga Kiki. Menurut saya ini suatu proses penting di dalam pendalaman karakter. Alhamdulillah karena ini syutingnya.tidak lama dan saya bisa menjalani semua proses dengan cukup baik rasanya," jelasnya.
| Baca Juga: Arya Saloka Gemetar Lakukan Ruqyah, Acha Septriasa Jadi Iblis Mengerikan di 'Munafik: Melawan Iblis'
Halimah: Representasi Perjuangan Perempuan PEKKA
Dalam film Seni Merayu Tuhan, Rieke memerankan Halimah, seorang janda yang berjuang keras membesarkan anak laki-lakinya sendirian. Rieke menyebut karakter ini sangat relevan dengan realita sosial perempuan kepala keluarga (PEKKA) di Indonesia.
"Halimah adalah seorang janda yang tidak malu menjadi seorang janda, dan bekerja keras untuk membesarkan anak laki-lakinya dengan sekuat tenaga. Suaminya meninggal," paparnya.
Rieke menekankan bahwa film ini memotret fase emosional orang tua saat anak-anak mereka beranjak dewasa dan mulai memiliki dunia sendiri. Ia memberikan pesan menyentuh untuk para ibu yang sedang berjuang. (*)







