VIVIA MEDIA — Ada perang yang berlangsung di medan tempur. Ada pula perang yang jauh lebih sunyi: melawan penyakit, waktu, dan ingatan yang perlahan meninggalkan pemiliknya.

Bagi Wilson, pejuang muda dalam pentas 'Bulang Trang, Nona', kedua bentuk perjuangan itu hadir dalam satu perjalanan hidup. Ketika malaria memaksanya mundur dari medan perang di Irian Barat, ia berhadapan dengan pertempuran lain: tubuhnya melemah, ingatannya perlahan menghilang, dan nama-nama orang yang dicintainya terancam ikut lenyap.

Dipentaskan Teater Pandora di Galeri Indonesia Kaya dalam rangkaian program bertema perjuangan di bulan kemerdekaan, pertunjukan ini membawa penonton menelusuri kehidupan Wilson melalui kenangan tentang keluarga, masa kecil, persahabatan, cinta, perpisahan, hingga pengalamannya sebagai pejuang.

Judul Bulang Trang, Nona berasal dari bahasa Ambon yang berarti "Terang Bulan, Nona". Di tangan sutradara Yoga Mohamad, kisah ini tidak hadir sebagai cerita kepahlawanan semata, melainkan bergerak lebih dekat ke ruang-ruang personal tempat patriotisme bersemayam: rumah, keluarga, kasih sayang, dan keberanian bertahan.

| Baca Juga: Idgitaf Jadi Suara Batin Kaluna, Ciptakan Lima Lagu untuk Home Sweet Loan The Musical

Kembali ke Ambon, 1936

Ingatan Wilson membawa cerita kembali ke Ambon, saat ia berusia enam tahun, tinggal bersama Mama dan tiga tantenya, Tante Rosi; Tante Betty; dan Tante Siska, di sebuah rumah warisan. Di sanalah Wilson pertama kali mengenal cinta dan kasih sayang.

Mama melahirkannya pada usia 20 tahun, dari seorang pilot yang pergi setelah mengetahui Mama mengandung.

Perempuan-perempuan di rumah itu mengajari Wilson tentang cinta melalui kehangatan, kelucuan, pertengkaran, dan pilihan hidup masing-masing, termasuk Mama dan Tante Rosi yang memilih tidak menikah meski banyak dilamar.

Ketika Ingatan Menjadi Tempat Pulang

Wilson menjadi pejuang yang membela tanah air pada awal kemerdekaan Indonesia. Namun, malaria yang menyerangnya di Irian Barat memaksanya mundur dari medan perang. Sejak saat itu, medan perjuangannya berubah: melawan tubuhnya sendiri dan ingatan yang kian rapuh.

| Baca Juga: Kembali Hadir Setelah 35 Tahun, Teater Koma Hidupkan Lagi Lakon 'Rumah Sakit Jiwa'

1 2 3

Tags: