Merasa Cuma Kelebihan Berat Badan? Hati-Hati Bisa Jadi Sudah Obesitas
Menurut Yunir, penanganan obesitas semestinya berfokus pada peningkatan kesehatan dan penurunan risiko komplikasi, bukan semata angka di timbangan.
Hal serupa berlaku untuk urusan diet. Dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), menegaskan tidak ada satu resep diet yang cocok untuk semua orang.
| Baca Juga: Mata Katarak Tak Perlu Menunggu Parah, Deteksi Dini Perbesar Peluang Sembuh
Pola makan seseorang perlu dilihat bersama kebiasaan dan kondisi hidupnya, termasuk hubungan emosional dengan makanan yang kerap terbentuk sejak masa kecil. Asesmen gizi klinis, perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis pun perlu berjalan beriringan.
Selain pendekatan individual, penanganan obesitas juga tidak bisa dibebankan pada satu orang saja. "Obesitas nggak bisa ditangani secara individual, harus dimulai dari keluarga," kata Prof. Dante.
Kebiasaan makan dan aktivitas keluarga sejak dini turut membentuk perilaku kesehatan anak, meski faktor genetik tetap berperan.
Oleh karena itu, kesadaran terhadap obesitas idealnya tidak menunggu sampai komplikasi muncul. Perubahan ukuran pakaian atau lingkar perut yang bertambah bisa menjadi sinyal awal untuk memeriksakan diri, termasuk lewat program Cek Kesehatan Gratis pemerintah yang turut mengukur tekanan darah dan gula darah. "Jangan menunggu sakit dulu," ujar Erwin.
| Baca Juga: Cegah Gigi Berlubang pada Anak, Mulai dari Enam Kebiasaan Kecil di Rumah
Di sisi lain, pilihan terapi obesitas kini juga makin beragam, mulai dari perubahan gaya hidup hingga terapi berbasis incretin, namun penggunaannya harus di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Prof. Dante menegaskan penanganan bukan soal memilih antara "obat" atau "gaya hidup", melainkan disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing individu berdasarkan pemeriksaan menyeluruh, termasuk komposisi tubuh.
Pada akhirnya, selama obesitas masih dianggap tanda kemalasan, penyandangnya akan terjebak dalam rasa malu dan memilih diam, padahal risiko kesehatan tidak ikut menghilang.
"Tidak ada satu orang pun yang harus menghadapi sendirian dan diam atau dalam rasa malu," kata Prof. Dante. Keputusan berani bicara tentang berat badan adalah langkah awal untuk berani menjaga kesehatan. (*)







